Camat Gempol Abdul Ghoni bersama Kepala BPBD Haris saat meninjau Sungai Kebonsari.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Banjir yang merendam Desa Gempol Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, tak kunjung surut. Tercatat ada tujuh dusun yang teredam banjir. Yaitu Dusun Patuk, Wonoayu, Gempol, Tanjung, Kauman Baru, Gempol Joyo, dan Kisek.
Menurut Furqon, Mantan Kades Gempol, banjir yang terjadi di desanya tiap tahun semakin parah. Untuk itu, dia menyarankan kepada segenap elemen pemerintah mengambil kebijakan agar banjir tak semakin meluas.
BACA JUGA:
- Aktivis Soroti Banjir Pasuruan, Desak Gubernur Jatim Keluarkan Moratorium Izin Tambang
- Dikunjungi Kepala BNPB, Wabup Pasuruan Sampaikan Kondisi Banjir, 150 Hektare Terancam Gagal Panen
- Tinjau Banjir Pasuruan, Gubernur Khofifah Minta Penanganan Cepat dan Terkoordinasi
- Banjir Terbesar Rendam Beji Pasuruan, BPBD Jatim Turun Tinjau Lokasi
"Pemerintah itu harus berani mengambil keputusan. Kalau dulu, saya pas jadi kades tak buka Sungai Mati itu, (air) tak arahkan ke sana. Gak apa, wong untuk menyelamatkan orang banyak," kata Furqon saat ikut bagi-bagi sembako bersama forkopimcam.
Sungai Mati yang dimaksud Furqon adalah sungai perbatasan Sidoarjo-Pasuruan yang ada di Dusun Patuk dan Kisek, Desa Gempol.
Di sisi lain, Camat Gempol H. Abdul Ghoni mengatakan untuk membuka Sungai Mati harus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi atau pusat. "Karena sungai itu bukan wewenangnya pemerintah kabupaten," terang Ghoni saat dikonfirmasi HARIAN BANGSA terkait usulan dari Furqon.
Menurut Ghoni, ada beberapa faktor penyebab banjir di Desa Gempol. Antara lain, beberapa jembatan perusahaan yang terlalu dalam atau lebih tinggi dari tangkis. Kemudian masing-masing jembatan penghubung perusahaan tersebut rata-rata ditutup tembok.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




