KH. Makmur Masyhar (kiri) dan KH. TB Abdul Hakim
Ketegasan menolak Ahwa juga dikemukakan Rais Syuriyah PWNU Lampung KH. Ngaliman Marzuki. Kiai Ngaliman mengaku khawatir Ahwa hanya sekedar langkah rekayasa untuk menghadang tokoh NU yang kini mendapat dukungan luas dari para pengurus NU se-Indonesia yakni KH. Hasyim Muzadi.
Kiai Ngaliman Marzuki sangat setuju pada pendapat KH. Ahmad Baghowi Nganjuk Jawa Timur. Seperti diberitakan BangsaOnline.com, Rais Syuriah PCNU Nganjuk, KH Ahmad Baghowi, menilai sistem pemilihan Ahwa yang disosialisasikan PWNU Jawa Timur tak bisa diterapkan begitu saja dalam Muktamar ke-33 pada 1 hingga 5 Agustus di Jombang. Karena selain belum ada kesepakatan, juga jumlah anggota Ahwa itu masih jadi pro-kontra.
”Dalam kitab-kitab mu’tabarah yang saya pelajari jumlah anggota Ahwa itu tak ditentukan berapa jumlahnya. Jadi banyak-sedikitnya tak ada,” kata Kiai Ahmad Baghowi. Karena itu, menurut Kiai Ahmad Baghowi, kalau kini PWNU Jatim membatasi anggota Ahwa 9 orang sama saja dengan mengerdilkan dan mengecilkan NU.
”Pada waktu Rasulullah wafat jumlah sahabat 124.000 orang, kemudian mengangkat Khalifah Abu Bakar dengan (wakil pemilih/anggota Ahwa) berjumlah 5 orang,” tulis Kiai Ahmad Baghawi lewat SMS kepada BangsaOnline.com. Artinya, para sahabat yang saat itu berjumlah 124.000 orang diwakili oleh 5 orang untuk memilih Khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah SAW.
”Sekarang jumlah warga NU ratusan juta, kalau jumlah anggota Ahwa 500 orang sudah sesuai,” kata Kiai Ahmad Baghowi. Artinya, pemilihan Rais Am dan Ketua Umum PBNU yang selama ini diwakili 500 Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah seluruh Indonesia sudah sesuai Ahwa. “Silakan lihat kitab Qorthrul Ghaits halaman 12 dan kitab Al-Fiqhu Alaa Madzahibil Arb’ah halaman 1364,” kata Kiai Ahmad Baghowi.
Pemikiran Kiai Ahmad Baghawi ini sangat cerdas dan rasional, terutama dalam memahami kitab kuning secara kontekstual. Ia selain bisa memberi referensi historis juga memberi data empiris dan representatif dalam memilih pemimpin menurut Islam, khususnya dalam perspektif Aswaja. Jadi, menurut dia, substansi Ahwa adalah keterwakilan yang bisa merepresentasikan kualitas dan kwantitas. Karena itu jumlah warga NU yang kini mencapai ratusan juta tak bisa dirampas oleh sejumlah kecil orang yang integritasnya belum bisa dijamin.
Menurut dia, sangat tidak masuk akal kalau warga NU yang jumlahnya ratusan juta hanya diwakili 9 orang seperti konsep Ahwa PWNU Jawa Timur dalam memilih Rais Am dan Ketua Umum PBNU. Sebab konsep tersebut selain mengerdilkan NU juga menghambat semangat pengurus NU di daerah untuk berkhidmat pada NU. “Ini jelas mengurangi semangat PCNU,” tegasnya.
Seperti diberitakan, informasi yang diterima BangsaOnline.com menyebutkan, mayoritas Rais Syuriah PCNU yang hadir dalam pertemuan di Sidogiri mengakui bahwa dalam pertemuan itu mereka (Rais Syuriah) lebih banyak diam saat KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur dan KH Mas Subadar, pengurus PBNU dan tokoh PKNU asal Besuki Pasuruan memberi taushiyah soal Ahwa. Tapi, menurut mereka, diam bukan berarti setuju. Bahkan para Rais Syuriah itu kemudian menggelar pertemuan sendiri-sendiri di wilayahnya masing-masing yang intinya menolak Ahwa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




