Ilustrasi. foto: sinar harapan
Ia sendiri mengaku meyakini Ahwa merupakan sistem pemilihan terbaik. ”Kan seperti formatur. Jadi kita serahkan saja kepada para kiai,” katanya. Ia mengaku tak bisa menyebut siapa yang pantas untuk memimpin NU ke depan. Ia bahkan mengaku hingga kini PCNU Situbondo belum pernah membahas soal Muktamar NU.
“Kan belum ada surat. Launching (Muktamar NU) sudah di kantor PWNU. Tapi kami belum pernah dapat surat pemberitahuan. Jadi kami belum membahas apa-apa,” katanya.
Haji Fauzan juga mengaku tak mengikuti perkembangan NU diluar Situbondo. Apalagi secara nasional. “Saya gak nutut,” katanya. Karena itu ia mengaku tak pernah terpengaruh dengan hiruk pikuk serangan Syiah, Wahabi dan Islam Liberal yang menyerbu kantong-kantong NU seperti kasus Wahabi di Pamekasan, kasus Syiah di Sampang, Surabaya dan daerah lain.
“Kalau di Situbondo tak mungkin ada. Karena Situbondo ini daerah hijau. Memang Kiai Mutawakkil pernah bilang dalam pidatonya bahwa di Bondowoso sudah ada 6000 orang Syiah. Tapi di Situbondo aman-aman saja,” katanya.
Ia juga sudah menyampaikan dalam berbagai forum di Situbondo agar paham-paham di luar NU itu jangan dicounter. “Karena kalau dicounter mereka merasa diperhatikan, dan semakin membuat strategi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




