Soeharto Pernah Sebut Islam Musuh Bersama, Tapi Kemudian Naik Haji

Soeharto Pernah Sebut Islam Musuh Bersama, Tapi Kemudian Naik Haji Buku Young Soeharto: The Making of a Soldier, 1921-1945 karya David Jenkins. Foto: ist

“Soeharto berusia 14 tahun ketika dia bertemu dengan Daryatmo, seorang dukun yang dihormati dan memiliki pengaruh besar kepadanya. Tak perlu diragukan lagi kehangatan perasaan Soeharto terhadap Romo Daryatmo, yang mengajarinya meditasi dan kebatinan serta pertanian, mata pelajaran yang selalu dekat di hati Soeharto,” tegas Davis Jenkins.

Dalam sejumlah kesempatan, Soeharto kerap menyebut dirinya sebagai Islam abangan – merujuk pada kepercayaan Islam berbalut unsur tradisi yang kuat.

“Saat Pemilihan Umum 1977, Soeharto menerima Ignatius Joseph Kasimo, Frans Seda, dan beberapa tokoh lain dari Partai Katolik. Bahkan, sebelum mereka duduk, Soeharto lebih dulu berucap bahwa Islam adalah musuh bersama,” tulis Majalah Tempo.

Namun, saat bertambah usia, Soeharto mulai menunjukkan ketertarikannya pada Islam. Pada 1990, Soeharto mendukung terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dihimpun BJ Habibie.

Soeharto juga kemudian berhaji bersama keluarganya. Sekembali dari Mekah, dia mulai tampil lebih islami. Misalnya, dia mulai sering menggunakan kata bismillah saat member pernyataan public – hal yang dulu jarang ia lakukan. (mma)