Yang menarik, buku yang terbit awal September 2021 itu juga memberi latar soal Islam abangan yang dianut Soeharto sejak kecil. Saat tinggal di Wonogiri, Soeharto remaja berkenalan dengan Romo Daryanto, seorang guru spiritual yang membawa pengaruh hingga Soeharto dewasa.
“Soeharto berusia 14 tahun ketika dia bertemu dengan Daryatmo, seorang dukun yang dihormati dan memiliki pengaruh besar kepadanya. Tak perlu diragukan lagi kehangatan perasaan Soeharto terhadap Romo Daryatmo, yang mengajarinya meditasi dan kebatinan serta pertanian, mata pelajaran yang selalu dekat di hati Soeharto,” tegas Davis Jenkins.
Dalam sejumlah kesempatan, Soeharto kerap menyebut dirinya sebagai Islam abangan – merujuk pada kepercayaan Islam berbalut unsur tradisi yang kuat.
“Saat Pemilihan Umum 1977, Soeharto menerima Ignatius Joseph Kasimo, Frans Seda, dan beberapa tokoh lain dari Partai Katolik. Bahkan, sebelum mereka duduk, Soeharto lebih dulu berucap bahwa Islam adalah musuh bersama,” tulis Majalah Tempo.










