SUMENEP (BangsaOnline) - Sarkawi (50) salah satu tokoh masyarakat Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, akan melaporkan Ilham, Kordinator Lapangan (Korlap) beras operasi pasar khusus (OPK) untuk wilayah kepulauan pada Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat. Hal itu dikarenakan, beras OPK yang ditemukan ngendon selama 20 hari di Pelabuhan Gersik Putih, Kecamatan Kalianget, jumlahnya sudah berkurang sebanyak 6 ton.
Beras yang akan didistribukan bagi empat desa di Kepulauan/Kecamatan Sapeken, berjumlah 30 ton. Namun setelah di cek di Lapangan, beras tersebut sudah tinggal 24 ton, tekor sekitar 6 ton.
BACA JUGA:
- Bakti Pelosok Negeri, Petrokimia Gresik Perkuat Infrastruktur di Kepulauan Kabupaten Sumenep
- Kapal Express Bahari Tiba di Sumenep, Segera Disiapkan untuk Pelayaran Perdana
- Polres Sumenep Hentikan Proses Penyidikan Dugaan Pungli Kenaikan Pangkat PNS, ini Alasannya
- Pemkab Sumenep Segera Buka Trayek Baru Kapal Laut ke Kepulauan
”Saya mencurigai ada ketidakberesan dalam distribusi beras OPK ke Sapeken. Masak beras yang semestinya 30 ton sudah tinggal 24 ton?,”tanya dia tanpa perlu jawaban.
Kejanggalan tersebut diketahui dari keterangan korlap beras OPK, yang mengaku jumlah beras untuk pulau Sapeken hanya berjumlah 24 ton. Sementara keterangan dari Kabag perekonomian dan Bulog, beras OPK itu berjumlah 30 ton.
Selain masalah tekornya jumlah beras, ia juga meragukan keterangan korlap yang mengatakan jika keterlambatan pengiriman disebabkan terjadi cuaca ekstrem di perairan Sumenep. Padahal, kenyataannya, selama dua minggu terakhir perairan Sumenep dalam kondisi normal, dan tidak ada hambatan.
Sementara Ilham, Korlap beras OPK untuk Kepulauan, membantah jika pihaknya sengaja menimbun beras di pelabuhan Gersik Putih. Melainkan pihaknya tidak bisa memaksa kapal yang akan mengangkut beras tersebut, karena cuaca ekstrem dan takut tenggelam.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




