Mbah Maimun
Islam, menurut Ulil, adalah sebuah "organisme" yang hidup dan dinamis sesuai dengan perkembangan manusia. Bukan monumen yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai "patung" indah tak boleh disentuh tangan sejarah.
Intinya, menurut Ulil, diperlukan penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. ''Mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.'' tulis Ulil.
Ulil mencoba membuat contoh aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab yang tak perlu diikuti. Misalnya jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.
Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum. Kepantasan sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.
Ulil juga memperbolehkan nikah beda agama. Karena, menurut Ulil, Al-Quran memperbolehkan. Ia menunjuk Surat Al-Maidah ayat 5. Intinya, seorang lelaki diperbolehkan nikah dengan perempuan Nasrani dan Yahudi.Dalam ayat ini, kata Ulil, tidak ada keterangan, perempuan muslimat dilarang nikah dengan laki-laki non muslim. Jadi boleh saja.
Menurut dia, kalangan pesantren atau akademisi Islam, tidak melihat ada yang aneh dalam pemikirannya itu. Termasuk mertuanya sendiri, Gus Mus, tidak mempermasalahkan substansi yang dia lontarkan. Hanya metode dan cara penyampaiannya berbeda dari apa yang disampaikan kalangan kiai sepuh. ''Mertua saya tak keberatan atas substansi yang saya sampaikan,'' ujarnya seperti dikutip Suara Merdeka (Rabu,18/12/2002).
Apa yang disampaikan Ulil soal Gus Mus bisa jadi benar. A Dardiri Zubairi, seorang penulis di Kompasiana mengaku mengikuti dialog Gus Mus di sebuah pondok pesantren di Sumenep Madura. Menurut dia, ada peserta dialog yang mempertanyakan keterlibatan Ulil di JIL. Apa jawab Gus Mus?
”Gus Mus (semoga saya tidak salah mendengar) menjawab begini: Saya tidak merisaukan keterlibatan Ulil di JIL, yang penting Ulil tidak boleh berhenti belajar. Jika berhenti belajar, orang akan jatuh pada kesombongan,” tulis Dardiri Zubairi di Kompasiana, 17 Maret 2011.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




