Rabu, 04 Agustus 2021 12:17

Di Depan 200 Ulama, Kiai Asep Buka Rahasia Sukses Bisnis di Pesantren

Senin, 07 Juni 2021 20:31 WIB
Editor: MMA
Di Depan 200 Ulama, Kiai Asep Buka Rahasia Sukses Bisnis di Pesantren
DARI KIRI: Adik Dwi Putranto, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Bojonegoro Ana Muawanah. foto: IST./ BANGSAONLINE.com

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi pembicara utama dalam acara Silaturahmi Pondok Pesantren dan Peserta OPOP (One Pondok One Product) Jatim se-Eks Karesidenan Bojonegoro di Hotel De Warna Bojonegoro, Minggu (6/6/2021).

Dalam acara yang diikuti sekitar 200 ulama dari berbagai pesantren yang letak duduknya berjarak satu meter untuk memenuhi prokes itu Kiai Asep tampil pada sesi pertama. Sedang Gubernur Khofifah tampil sebagai pamungkas.

Acara itu juga dihadiri Bupati Bojonegoro Ana Muawanah dan Ketua KADIN Jatim Adik Dwi Putranto. 

Saat Kiai Asep tampil, banyak peserta bertanya tentang usaha bisnis di pesantren yang digeluti kiai miliarder tapi dermawan tersebut selama ini. Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu langsung membuka rahasianya secara gamblang.

BACA JUGA : 

Kejar Herd Immunity, Unesa Surabaya Gelar Vaksinasi 5.000 Kuota

​Khofifah Tinjau Vaksinasi di Grand City, ITS dan Unesa, Dorong Akselerasi di Kampus

Kerja 13 Tahun Honor Nakes Rp 300 Ribu Per Bulan, Kiai Asep: Sekarang Uang Jadi Imunitas

Gubernur Khofifah Tinjau Vaksinasi Difabel dan SDM Kesehatan di Unisma dan UMM

“Karena kalau kita mendapat kenikmatan dari Allah, harus diceritakan agar orang lain bisa meniru atau mendapat inspirasi. Waamma bini'mati rabbika fahaddits,” kata Kiai Asep sembari mempersilakan ratusan kiai itu studi banding ke pesantren Amanatul Ummah.

Menurut Kiai Asep, jika kita ingin sukses dalam menggeluti usaha bisnis di pesantren, maka kita harus mengkondisikan dulu diri kita sebagai orang yang banyak rezekinya.

“Caranya bagaimana? Ada referensinya dalam Al-Quran. Wamayyattaqillaha yaj’al makhraja. Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasib. Wamayyatawakkal alallah fahuwa hasbuhu, innallaha ballighu amrihi, qad ja’lallahu likulli syaiin qadra,” kata Kiai Asep mengutip Al-Qur’an Surat Ath-Thalaq ayat 2 sampai 3.

Artinya, Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan memberi rezeki yang tak terduga. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Sesugguhnya Allah tetap melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah telah menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.

Kiai Asep lalu bercerita tentang Sa'ad Ibn Rabiah yang oleh Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf ketika peristiwa Hijrah ke Madinah. Sahabat Sa'ad adalah sahabat Anshar dan orang terkaya di Madinah pada masanya. Sedang Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Muhajirin yang ikut hijrah Nabi dari Makah ke Madinah.

Menurut Kiai Asep, Sa'ad menawarkan separuh harta dan bahkan salah satu istrinya kepada Abdurrahman bin Auf. Menurut Kiai Asep, jika Abdurrahman bin Auf mau, maka Sa'ad akan menceraikan salah satu istrinya agar dinikahi oleh saudara barunya itu setelah iddah. 

Namun Abdurrahman bin Auf menolak secara halus. Ia hanya minta diantar ke lokasi pasar. Sa'ad pun mengantarkan Abdurrahman bin Auf ke pasar Bani Qoinuqa, yaitu tempat kaum Yahudi.

“Di Madinah itu ada tiga kelompok Yahudi. Yaitu Bani Quraidah, Bani Nadzir, dan Bani Qainuqa,” kata Kiai Asep.

Setelah melihat kondisi pasar, Abdurrahman bin Auf memutuskan untuk membuka kios. Tentu modalnya dari Sa'ad. 

Ternyata usaha Abdurrahman bin Auf berkembang pesat. “Dari satu kios menjadi dua kios. Akhirnya Nabi memanggail Abdurrahman Bin Auf,” tutur Kiai Asep. Menurut Kiai Asep, melihat potensi Abdurrahman Bin Auf, akhirnya Nabi Muhammad membuatkan pasar. Sehingga Abdurrahman Bin Auf menjadi orang paling kaya di Madinah, melampaui kekayaan Sa'ad Ibnu Rabiah.

Saat itulah Sa'ad mengatakan kepada Abdurrahman bin Auf, “Dulu saya orang terkaya di Madinah. Tapi sekarang panjenengan orang terkaya di Madinah.”

Dengan merendah, Abdurrahman Bin Auf menjawab. “Ya, tapi kan modalnya dibantu panjenengan.”

Menurut Kiai Asep, Abdurrahman Bin Auf seorang pedagang bertangan dingin, sampai Sahabat Sa'ad melihat setiap sesuatu yang dipegang Abdurrahman Bin Auf menjadi emas.

Kiai Asep lalu menyimpulkan bahwa Abdurrahman Bin Auf adalah contoh seorang Sahabat visioner yang usahanya merintis dari nol atau dari bawah tapi kemudian menjadi konglomerat profesional di tengah kekuatan besar dominasi konglomerasi kaum Yahudi Bani Qainuqa.

“Sama dengan sekarang. Semua bisnis dikuasi China,” kata Kiai Asep. Artinya, menurut Kiai Asep harus yakin bahwa kita bisa menjadi pengusaha besar asal kita punya rasa percaya diri sembari mereferensi kepada al-Quran dan Hadits. 

Kiai Asep yang kini memiliki usaha air mineral dan SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji) serta usaha lainnya itu menggugah kesadaran para kiai agar di pesantren dikembangkan usaha atau bisnis. Menurut Kiai Asep, Abdurrahman Bin Auf bukan hanya seorang konglomerat kaya raya, tapi juga ahli ibadah dan takwa kepada Allah.

Karena itu Kiai Asep menekankan salat malam. “Tak usah terlalu malam. Menjelang subuh saja,” kata Kiai Asep. Tapi setelah subuh, kata Kiai Asep, jangan tidur. Karena ada Hadits yang artinya bahwa Allah membagikan rezeki antara terbit fajar shadiq hingga terbit matahari. Karena itu saat Allah membagikan rezeki kita jangan absen.

“Ini Haditsnya shahih,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Kiai Asep sehari penuh di Bojonegoro. Selama di Bojonegoro, Kiai Asep selalu didampingi H Ahmad Suprayitno, M.P.di, Ketua PC Pergunu Bojonegoro dan Gus Wahid dari Pondok Pesantren Kendal Bojonegoro.

Usai menjadi pembicara di acara OPOP, Kiai Asep menuju Kantor PCNU Bojonegoro. Menjadi pembicara dalam acara Pergunu Bojonegoro yang juga dihadiri Ketua PW Pergunu H. Sururi, S.Ag, MM. 

Lalu bersama Gubernur Khofifah dan rombongan Kiai Asep melakukan peletakan batu pertama pembagunan Masjid Kanzul Asy di Pondok Modern Al-Fatimah yang diasuh KH Tamam.

Usai dari acara itu, Kiai Asep bersama Gubernur Khofifah dan rombongan menuju rumah seorang kiai di Bojonegoro. Lalu Kiai Asep ke pondok Pesantren Kendal, pesantren terbesar di Bojonegoro. 

Sekitar pukul 20.30 WIB, Kiai Asep dan rombongan kembali ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya lalu ke Pacet Mojokerto. (mma)

Respons Keluhan Ojol Karena Terdampak Pandemi, ASC Foundation Bagikan Paket Sembako dan Uang Bensin
Kamis, 29 Juli 2021 13:40 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Muhammad Al Barra bersama Tim ASC Foundation-nya, telah menyalurkan paket sembako kepada para pedagang terdampak PPKM darurat di 12 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Aksi sosial ini terus dilakukan Gus Barra. Kali i...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Rabu, 04 Agustus 2021 11:59 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*69. Qaala satajidunii in syaa-a allaahu shaabiran walaa a’shii laka amraanDia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”70. ...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...