Kamis, 29 Juli 2021 10:19

Soal Kasus Ulama Dilempar Soto, Polres Probolinggo Pastikan Pelaku Alami Gangguan Jiwa

Jumat, 21 Mei 2021 15:38 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Andi Sirajuddin
Soal Kasus Ulama Dilempar Soto, Polres Probolinggo Pastikan Pelaku Alami Gangguan Jiwa
Polres Probolinggo menggelar konferensi pers kasus penyerangan terhadap Ahsan Qomaruzzaman (32) atau yang biasa disapa Gus Aka, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jumat (21/5/2021) pagi. (foto: ist)

PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com - Polres Probolinggo menggelar konferensi pers kasus penyerangan terhadap Ahsan Qomaruzzaman (32) atau yang biasa disapa Gus Aka, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jumat (21/5/2021) pagi. Pelaku yang bernama Hasanuddin (28), Warga Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo diketahui mengalami gangguan kejiwaan.

Kasus penyerangan terhadap Gus Aka terjadi pada Sabtu (15/5/2021) lalu. Pelaku melemparkan nasi soto kepada korban sehingga mengenai baju dan wajah korban. Namun masih beruntung, piring yang dipegang pelaku tidak turut dilempar kepada korban. Pelaku melempar piring ke lantai, sehingga pecah.

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan membenarkan jika pelaku telah melakukan percobaan penyerangan atau pengancaman terhadap korban bernama Ahsan Qomaruzzaman. Kemudian, pelaku diamankan langsung oleh santri dan petugas pengamanan yang ada di ponpes tersebut.

"Kemudian dari dasar kejadian tersebut, Polres Probolinggo melakukan proses penyelidikan dan pemeriksaan-pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan pelaku," ujar Kapolres Probolinggo Ferdi Irawan saat konferensi pers di Mapolres Probolinggo.

BACA JUGA : 

Wali Kota Probolinggo Apresiasi Bantuan Batman untuk Warga Isoman

Pabrik Kayu di Probolinggo Ludes Terbakar, Kerugian hingga Miliaran Rupiah

PPKM Darurat, Pemkot Probolinggo Beri Bantuan Stimulus Rp 200 Ribu untuk PKL Pasar Tugu

PPKM Darurat, Polres Probolinggo Kota Salurkan 50 Ton Beras untuk Warga Terdampak

Tidak hanya itu, Kapolres Probolinggo juga menegaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap terduga pelaku atas nama Hasanuddin, didapat kesimpulan jika pelaku mengalami gangguan kejiwaan dan saat ini telah dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang.

"Kami sudah konsultasikan dari keterangan dokter di sana bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan atau tidak sehat secara kejiwaan. Selain itu, dibuktikan dengan keterangan orang tua dan warga sekitar tempat tinggalnya," tegasnya.

Kapolres menerangkan, bukti pendukung lain, yakni pelaku telah berobat sebelumnya yang didukung dengan keterangan dari dokter yang menangani. "Sehingga terhadap perkara ini, berdasarkan ketentuan yang bersangkutan mengalami gangguan kejiwaan, proses hukum ini tidak bisa dilanjutkan terhadap proses hukum selanjutnya," terangnya.

Di samping itu, Kapolres Probolinggo juga menyinggung soal beredarnya video penyerangan tersebut yang cukup viral di media sosial, sehingga muncul persepsi atau dugaan terhadap masyarakat atas kejadian tersebut.

Menurutnya, kasus ini tidak ada kaitannya dengan kelompok-kelompok tertentu. "Kejadian ini tidak ada perencanaan penyerangan terhadap tokoh agama atau ulama. Ini justru murni karena yang bersangkutan mengalami gangguan kejiwaan," tuturnya.

"Harapannya, dengan rilis ini bisa mementahkan narasi-narasi yang sempat beredar di wilayah Kabupaten Probolinggo," pungkasnya.

Sementara itu, orang tua pelaku yang hadir dalam konferensi pers tersebut membenarkan penyataan Kapolres Probolinggo jika pelaku penyerangan atas nama M. Hasanuddin mengalami gangguan kejiwaan. Menurutnya, anaknya memang mengalami kelainan kejiwaan sejak berada di bangku SMP kelas 1. Bahkan, sudah beberapa kali dilakukan pengobatan agar pelaku bisa sembuh.

"Saya meminta maaf beribu-ribu maaf atas kekhilafan kami, keteledoran kami, terutama kepada Pimpinan Ponpes Zainul Hasan Genggong. Kami mohon maaf, beribu-ribu maaf. Kami akan merehabilitasi atau mengobati anak kami yang sudah dirujuk ke Lawang sambil menunggu hasil pemeriksaan," ujar orang tua pelaku saat hadir di konferensi pers.

Tanda-tanda adanya kelainan jiwa itu, menurut orang tua pelaku, terjadi sejak di bangku kelas 1 SMP. Saat itu, pelaku sering menangis tanpa sebab. "Saya pernah bawa ke Kiai Wahyu di Paiton dan sempat sembuh. Namun, kambuh lagi. Pernah kami bawa ke Jakarta untuk pengobatan dan pernah rawat jalan, dan kadang-kadang kambuh lagi," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. (ndi/zar)

Warga Sambisari dan Manukan Kulon Menolak Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Corona
Senin, 26 Juli 2021 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Korban Covid-19 yang terus berjatuhan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas tempat isolasi pasien yang sedang terpapar virus corona. Berbagai fasilitas gedung – termasuk sekolah – direncana...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...