Kamis, 29 Juli 2021 05:40

Tim Rukyat NU Jember, Gresik, dan Lamongan Melihat Hilal

Senin, 12 April 2021 19:08 WIB
Editor: tim
Tim Rukyat NU Jember, Gresik, dan Lamongan Melihat Hilal
Tim Rukyat Bengkel Falak PCNU Jember di Pusat Obeservasi Bulan (POB) Sunan Kaliwining Jember Senin (12/4/2021) petang. Foto: ist

JEMBER, BANGSONLINE.com – Ketua Tim Rukyat Bengkel Falak PCNU Jember KH RM Khotib Asmuni mengaku melihat hilal saat memantau bersama tim di Pusat Obeservasi Bulan (POB) Sunan Kaliwining Jember Senin (12/4/2021) petang.

“Alhamdulillah kami berhasil melihat hilal pada pukul 17.40 WIB,” kata Kiai RM Khotib Asmuni kepada BANGSAONLINE.com, Senin (12/4/2021).

Menurut alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu, yang bisa melihat hilal bukan hanya dirinya, tapi juga A Nizar, salah seorang satu tim. “Menurut informasi, bukan hanya Jember yang bisa melihat hilal, tapi juga Gresik dan Lamongan,” kata Khotib lagi.

Kiai Khotib menerangkan, menurut teori normalnya hilal baru terlihat lima menit sesudah matahari tenggelam. “Kalau sebelum lima menit terganggu biasnya matahari,” katanya. Jadi normalnya harus di atas 5, misalnya 7 menit, 8 menit, 9 menit dan seterusnya. 

BACA JUGA : 

7 Pegawai Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kantor PN Jember Lockdown

Pasca-insiden Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Covid-19 di Silo, Warga yang Terlibat Akan Di-tracing

Ikhtiar Illahiyah, Wabup Jember Gus Firjaun Pimpin Doa Bersama Mohon Pandemi Covid-19 Cepat Berakhir

Tersinggung Gegara SMS, Makam Berusia 10 Tahun di Jember Terpaksa Dipindah

Tadi pukul berapa matahari tenggelam? “Pukul 17.26 WIB. Sedang hilal terlihat pada pukul 17.40 WIB. Jadi hilal terlihat setelah 14 menit matahari tenggelam,” jelas Kiai Khotib.

Ia menjelaskan bahwa tim yang bisa melihat hilal adalah operator rukyat. Sedang tim yang pakai teleskop malah tak bisa melihat hilal.

Loh, kenapa? “Wah kalau saya jelaskan panjang. Tapi gampangnya begini. Bahwa peralatan yang kami punya tak bisa menjangkau. Beda seandainya kalau pakai teleskop di atas Bosscha yang harganya ratusan juta lebih,” jalas Khotib. Artinya, tim yang pakai teleskop gagal melihat bulan karena keterbatasan teknologi yang dimiliki.

Menurut dia, di Negara kita penghargaan terhadap astronomi memang masih rendah. Beda dengan negara lain. Jerman, misalnya. Peralatan di sana sudah sangat canggih. "Karena itu seandainya pemerintah mau biayai ya kayak Gubernur Khofifah membelikan peralatan dua teleskop aja yang bagus untuk seluruh Jawa Timur. Misalnya taruh di Gresik, yang dekat dengan Surabaya," ujarnya. (mma)

Warga Sambisari dan Manukan Kulon Menolak Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Corona
Senin, 26 Juli 2021 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Korban Covid-19 yang terus berjatuhan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas tempat isolasi pasien yang sedang terpapar virus corona. Berbagai fasilitas gedung – termasuk sekolah – direncana...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...