Kamis, 13 Mei 2021 14:00

​Kalahkan Daging, Harga Cabai Rp 120.000 per Kg, Dahlan Iskan: Bikin Sejarah

Rabu, 17 Maret 2021 05:24 WIB
Editor: mma
​Kalahkan Daging, Harga Cabai Rp 120.000 per Kg, Dahlan Iskan: Bikin Sejarah
Dahlan Iskan. Foto: ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Dahlan Iskan menulis bahwa penanganan Covid-19 di Brasil kacau. Presiden Bolsonaro bahkan terus mengganti Menteri Kesehatan-nya. Sampai 4 kali. Sampai sulit menemukan orang untuk menjabat Menkes.

Menurut Dahlan Iskan, kita perlu membahas negara seperti Brasil. “Agar kita bisa bersyukur bahwa Indonesia lebih maju dari itu,” tulis wartawan kawakan itu.

Tapi harga cabai melambung. Loh? Simak tulisan Dahlan Iskan di HARIAN BANGSA hari ini, Rabu, 17 Maret 2021 dan juga di BANGSAONLINE.com dibawah ini. Selamat membaca:

SUDAH tiga hari ini ''juara dua'' Covid-19 diduduki Brasil–mengambil alih India. Tinggal Brasil yang penderita Covid-nya masih naik terus.

BACA JUGA : 

​Pemerintah Bernyali Besar, Syukur Tak Hanya Berani melawan HTI-FPI, Revolusi Energi (2)

Revolusi Energi untuk Negeri (1)

Bupati Nganjuk, Sebodoh Itukah Cari Uang? Ditangkap KPK Tekait Pungutan Jabatan Tingkat Kecamatan?

Revolusi Energi untuk Kebangkitan Negeri

Korbannya: menteri kesehatan. Dicopot. Diganti yang baru lagi.

Dalam setahun terakhir Brasil sudah ganti menkes 4 kali. Mengalahkan negara mana pun di dunia.

Menteri kesehatan yang baru saja diganti itu termasuk yang paling lama menjabat: 6 bulan. Menkes yang pertama hanya menjabat lima bulan: Luiz Henrique Mandetta. Awalnya tidak ada masalah. Satu partai dengan presiden. Begitu 4 bulan menjabat datanglah Covid. Luiz langsung bertengkar dengan Presiden JairBolsonaro.

Luiz dokter ahli orthopedi. Ia lulusan universitas negeri Mato Grosso do Sul di pedalaman Brasil. Di dekat perbatasan dengan Paraguay.

Penyebab pertengkaran: beda pendapat cara penanganan Covid.

Presiden Bolsonaro memang mengidolakan Presiden Donald Trump. Ia sampai mendapat julukan "Trump-nya Brasil": tidak mau ada kebijakan jaga jarak, tidak mau ada toko dan restoran yang ditutup, dan ia anti-masker.

Begitu menkes mundur, Bolsonaro lantas mendekati dokter wanita ahli jantung: Prof Dr Ludhmila Hajjar. Tapi Hajjar tidak mau. Dia seorang ilmuwan yang juga berseberangan pemikiran dengan presiden.

Maka dipilihlah Nelson Teich. Seorang dokter ahli kanker yang juga pengusaha. Umurnya 64 tahun. Lulusan Universitas Federal Rio de Janeiro. Ia juga memperdalam keahliannya di New York University.

Baru 28 hari menjabat Nelson mengundurkan diri. Juga tidak sejalan dengan Presiden Bolsonaro. Terutama soal pemakaian obat flu untuk Covid.

Presiden memang memaksa menkes agar menggunakan chloroquinedan hydroxychloroquine. Itulah obat flu yang dibanggakan oleh Trump sebagai jurus ampuh mengatasi Covid. Yang di Amerika sendiri juga ditentang para ilmuwan –lalu jadi bahan ejekan di medsos.

Sejak menkes kedua mundur tidak ditemukan lagi calon menkes. Bolsonaro membiarkan jabatan itu kosong. Sampai 4 bulan. Media di Brasil–sumber tulisan saya ini– ribut sekali. Tapi Bolsonaro masih terus mencari calon menteri yang mau menggunakan chloroquine dan hydroxychloroquine.

Akhirnya ditemukan.

Ia seorang jenderal aktif Angkatan Darat. Prestasinya menonjol saat menangani logistik Olimpiade di Rio de Janeiro.

Ia bukan dokter.

Namanya: Eduardo Pazuello.

Eduardo menurut saja apa yang diinginkan Presiden Bolsonaro. Ketika ditanya mengapa ia mendistribusikan obat flu untuk Covid, Eduardo hanya menjawab singkat: bos kita menghendakinya.

Tapi penderita Covid di Brasil terus meningkat. Pun pengadaan vaksin di sana simpang siur. Badan kesehatan di sana mengizinkan uji coba fase 3 Sinovac dari Tiongkok. Uji cobanya di Sao Paolo. Tapi Presiden Bolsonaro terus mengecam Sinovac.

Di Brasil pun beredar dua keterangan mengenai afikasi Sinovac. Bolsonaro terus menyuarakan bahwa afikasi Sinovac hanya 50,4 persen. Peneliti di sana mengumumkan afikasinya 78 persen.

Bolsonaro, seperti Trump, juga anti Tiongkok.

Maka vaksinasi di Brasil terkenal tidak terorganisasikan dengan baik. Menkes yang jenderal segera memesan vaksin AstraZeneca 100 juta. Tapi terjadi kesalahpahaman. Pesan lagi vaksin Pfizer dan Sputnic-V dari Rusia.

Sampai kemarin baru 5 persen penduduk Brasil yang divaksinasi.

Kehebohan terbesar ketika kementerian salah kirim vaksin: mestinya ke negara bagian Amazon dikirim ke Amapa–tetangganya. Itu akibat kode kirim yang mirip –tiga huruf depan dua negara bagian itu sama-sama ''Ama..''.

Banyak lagi kekacauan lainnya. Termasuk terjadinya kelangkaan oksigen. Dan juga terjadi penyelewengan. Yang melibatkan sang menkes. Maka menkes tidak bisa lagi cuci tangan. Ia harus menghadapi pengadilan dalam waktu dekat.

Bolsonaro pun harus mengganti menkes-nya lagi. Tapi diganti siapa? Siapa yang mau?

Presiden kembali melirik ke dokter wanita ahli jantung itu. Yang dulu menolak jadi menkes itu. Sabtu lalu Prof Hajjar dipanggil ke istana. Untuk mendiskusikan soal jabatan menkes itu. Tidak mudah bagi Presiden Bolsonaro membujuk Prof Hajjar. Hari Minggu besoknya Prof Hajjar diminta ke istana lagi. Bicara panjang lagi. Prof Hajjar tetap menolak jabatan itu.

"Saya ini ilmuwan. Bukan politisi. Bukan pula orang bisnis," ujar Hajjar. "Saya tidak bisa mengatasi Covid di luar ilmu pengetahuan," tambahnya.

Hajjar, kalau mau jadi menkes, harus merombak total sistem penanganan Covid yang ada. Kalau tidak, jumlah yang meninggal karena Covid bisa mencapai 500.000 sampai 600.000. Itu angka perkiraan Hajjar. Dan dia tidak yakin bisa diberi otoritas untuk menerapkan ilmu pengetahuan di bawah Presiden Bolsonaro.

Akhirnya Bolsonaro menemukan nama lain sebagai calon menkes: Marcelo Queiroga. Ia seorang dokter. Guru besar. Ahli jantung. Bahkan ketua asosiasi ahli jantung Brasil.

Dari Instagram-nya terlihat ia tidak seperti ilmuwan lain: ia dokter yang tidak pernah mengkritik Bolsonaro.

Tapi Marcelo masih minta waktu dua minggu. Untuk bisa memahami apa yang sudah dilakukan menkes yang jenderal sebelumnya.

Sesekali baik juga membahas negara seperti Brasil. Agar kita bisa bersyukur bahwa Indonesia lebih maju dari itu.

Maka biarlah harga cabai kita naik menjadi Rp 120.000 kg hari-hari ini. Sampai harga cabe bikin sejarah: mengalahkan harga daging. Sekarang ini harga cabai sudah dihapus dari parameter penentu inflasi. Jadi kalau pun menjadi Rp 130.000 per kg tidak akan merisaukan ekonom pemerintah.

Dan lagi bisa membantu perbaikan pencernaan. (*)

Jual Telur Infertil, 2 Warga Pasuruan Dicokok Polisi
Senin, 10 Mei 2021 23:24 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Aparat Polres Pasuruan mengamankan 2 orang pelaku perdagangan telur ayam infertil. Selain memperdagangkan telur infertil atau afkir, keduanya juga menjual limbah telur tak layak konsumsi, kepada produsen roti rumahan...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Kamis, 13 Mei 2021 08:15 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Tulisan Dahlan Iskan tentang Revolusi Energi edisi 2 ini menarik dinikmati pada Hari Raya Idul Fitri. Memang tergolong berat dan berbobot. Tapi mudah dicerna. Apalagi ditulis secara "sederhana" dalam bentuk pointer-pointer ...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...