Kamis, 03 Desember 2020 15:04

Jadi Narsum Training Guru, Wardiman Djojonegoro Sebut 3 Hal Pemicu Intoleransi

Kamis, 29 Oktober 2020 22:00 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Mustain
Jadi Narsum Training Guru, Wardiman Djojonegoro Sebut 3 Hal Pemicu Intoleransi
DARING: Wardiman Djojonegoro saat paparan di acara training penguatan toleransi, Rabu (28/10). foto: istimewa

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Wardiman Djojonegoro menyatakan toleransi sangat diperlukan karena masyarakat di Indonesia sangat beragam.

Jika tidak toleran satu dengan yang lain, maka bakal terjadi gontok-gontokan. Akibatnya, negara tidak akan pernah aman dan bisa maju.

Hal itu disampaikan Wardiman Djojonegoro, dalam pembukaan "Training Pembuatan Kegiatan Penguatan Toleransi Untuk Guru atau Pembimbing Ekstrakurikuler” yang digelar secara daring oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Rabu (28/10) kemarin.

Training ini berlangsung dua hari, hingga Kamis (29/10). Acara ini diikuti puluhan guru dan pembina ekstrakurikuler dari lima SMP dan lima SMA di lima kecamatan di Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Wardiman, untuk meningkatkan rasa toleransi, yaitu dengan cara mengurangi rasa unggul diri sendiri, kelompok atau daerah, dan tidak menganggap rendah kelompok yang lain. Susahnya, di zaman modern ini banyak faktor yang mendorong intoleransi.

Ada tiga faktor yang menyebabkan intoleransi, yaitu ketidaksamaan antardaerah atau antarkota. Ada daerah yang maju, daerah yang aman, daerah yang masih ketinggalan atau masih kumuh. Hal itu lantas dijadikan pemicu atau alasan untuk bentrokan.

"Ada orang-orang yang menjadikan perbedaan menjadi sarana untuk merendahkan atau menyerang orang atau kelompok lain," cetus Wardiman.

Kedua, pengaruh internet menjadikan kita mudah berpendapat tetapi mudah pula membuat orang lain tersinggung. Internet juga memudahkan penyebaran kabar bohong (hoaks) sehingga menjadikan berita panas. Kebebasan berpendapat justru menjadikan hal yang tak kondusif.

Ketiga, menurut Wardiman, pemilihan kepala daerah (pilkada) juga menjadi pemicu timbulnya intoleransi. Karena dalam kontestasi pilkada ini orang cenderung mencari-cari perbedaan dan kemudian dilegalkan.

Dalam training, narasumber lainnya yakni dari LPPM Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, yaitu yaitu Dr. A. Rubaidi, M.Ag, Amin Hasan, M.Pd dan Hernik Faisia, M.Pd.I. Selain itu juga ada pengantar pemahaman ekstrakurikuler dari Ketua BrangWetan, Henri Nurcahyo.

Training ini rangkaian program “Cinta Budaya Cinta Tanah Air” yang berlangsung selama satu tahun sejak Juli 2020 hingga Juni 2021. Sebelumnya, BrangWetan di antaranya sudah menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk stakeholder pendidikan.

Manajer Program “Cinta Budaya Cinta Tanah Air”, Moh Masrullah, Kamis (29/10), berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan guru atau pembimbing ekstrakurikuler dalam menanamkan penguatan toleransi kepada siswa.

Selain itu diharapkan mampu berperan menciptakan karakater dan perilaku siswa yang mengedepankan nilai toleransi di sekolah dan lingkungannya.

Kegiatan ini dinilai sangat penting karena akan berdampak langsung terhadap kemampuan guru atau pendamping ekstrakurikuler dan siswa dalam memahami toleransi di sekolah dan lingkungannya. (sta/ian)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Sabtu, 28 November 2020 12:00 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...