Begini Cerita Camat di Surabaya Soal Sulitnya Tracing saat Data Tak Sinkron

Begini Cerita Camat di Surabaya Soal Sulitnya Tracing saat Data Tak Sinkron Para camat saat jumpa pers di Kantor Bagian Humas, Kamis (25/6/2020).

Senada dengan itu, cerita yang nyaris sama juga dirasakan oleh Camat Tambaksari, Ridwan Mubarun. Ia bercerita pada tanggal 1 Juni 2020, salah seorang warganya dari Kecamatan Tambaksari ternyata terkonfirmasi Covid-19 setelah melewati tes swab. Setelah itu, warga tersebut menjalani karantina di Hotel Asrama Haji selama 14 hari. Kemudian, dia dites swab lagi dan hasil negatif.

“Tapi namanya masih saja muncul sebagai orang yang positif. Dia ternotifikasi dua kali, sehingga itu menambah jumlah pasien Covid-19 yang ada di Kota ,” papar Ridwan.

Ketidaksinkronan data juga dirasakan oleh Yunus, Camat Sawahan. Yunus mengaku saat warganya sudah dinyatakan sembuh dan sudah dilaporkan, namun nama itu seringkali muncul kembali. Kemunculannya itu tidak hanya dalam satu dua hari saja, tapi nama itu muncul lagi setelah satu minggu berikutnya, padahal dia sudah dinyatakan sembuh.

“Jadi, terkait data yang doubel itu nyata adanya. Kalau selisih sehari dua hari tidak ribet. Tapi kalau sudah seminggu atau sepuluh hari muncul lagi, nah ini sangat ribet. Ada yang sudah dilaporkan, tapi muncul lagi, dilaporkan lagi, muncul lagi. Ini kan aneh,” tegas Yunus.

Camat Karang Pilang, Eko Budi Susilo juga menjelaskan berbagai kendala yang dialaminya. Namun, ia mengakui bahwa berbagai kendala itu tak menyurutkan niatnya untuk gencar melakukan tracing di wilayah Karang Pilang. Bahkan, kerap kali saat tracing ia mengalami penolakan dari warga.

“Ada yang confirm Covid-19 tapi sama anggota keluarganya malah diumpetkan (disembunyikan). Tapi kami terus berupaya dan berkunjung dengan 3 pilar, hingga akhirnya kami berhasil mengatasinya,” pungkasnya. (ian/zar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Angkot Terbakar di Jalan Panjang Jiwo, Sopir Luka Ringan':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO