Diana di antara sesama nakes dengan pakaian APD lengkap. foto: IST./ BANGSAONLINE
Beberapa waktu lalu ketika Satgas Covid-19 Nasional membutuhkan analis kesehatan untuk bertugas di Wisma Atlet Jakarta, Diana mendaftar, tapi ternyata tidak diterima. Padahal semua persyaratan terpenuhi. Saat mendaftar, ia tak berpikir bahwa Covid-19 akan sampai Kota Kediri.
“Itulah alasannya kenapa saya harus tetap di Puskesmas Sukorame. Ternyata saya harus melakukan tugas ini,” kata Diana yang alumni IIK, Jurusan Analis Kesehatan itu.
Sekitar 28 sampel hasil tracing dan screening ia ambil dan kemungkinan akan tambah jika pandemi ini belum berhenti. Selain itu, ia juga akan mengambil sampel lagi karena selama 14 hari sejak pasien dinyatakan positif, maka kontak erat harus diambil sampel sebanyak 3 kali untuk 3 kali tes yaitu tes darah, swab, dan dahak.
“Kalau untuk hambatan, sejauh ini sudah tidak ada lagi. Kami sudah punya APD yang lengkap yang menjamin keamanan kami,” tambah Diana.
Diana tidak sekali ini saja berurusan dengan penyakit menular. Sejak tahun 2009 ketika mulai bertugas di Puskesmas Sukorame, ia sudah mengambil sampel para penderita TBC dan Dipteri.
TBC merupakan penyakit yang mendapat perhatian serius di Kota Kediri. Prosedurnya hampir sama dengan pengambilan sampel Covid-19, meski untuk dua penyakit itu tidak perlu dengan APD level 3 karena sudah bukan pandemi lagi, dan sudah ditemukan vaksinnya.
APD level 3 adalah APD lengkap yang sekali pakai, sedangkan untuk level 2 bisa dicuci ulang. APD level 1 biasanya dikenakan di laboratorium berupa masker dan sarung tangan. (uji/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




