Rabu, 11 Desember 2019 15:43

Kiai Asep Dijegal, Markas Besar Oelama Djawa Timoer Jadi Museum Nasional Terbengkalai

Rabu, 20 November 2019 11:34 WIB
Editor: MMA
Kiai Asep Dijegal, Markas Besar Oelama Djawa Timoer Jadi Museum Nasional Terbengkalai
Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA menandantangani dokumen penyerahan tanah wakaf Markas Besar Oelama (MBO) Jawa Timur kepada PBNU di Guest House Institut KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur, Rabu (13/11/2019). Tampak juga KH Sholeh Hayat, utusan PWNU Jatim yang ditugasi minta tandangan Kiai Asep. Saat penandatangan itu juga disaksikan Drs Fathurrohman, salah satu ketua PCNU Kota Surabaya dan M Mas'ud Adnan, owner HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com. foto: BANGSAONLINE.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA menuturkan saat jadi Ketua PCNU Kota Surabaya, banyak sekali program yang dicanangkan. Selain menyelamatkan Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT) di Waru Sidoarjo, juga membangun kantor PCNU Kota Surabaya.

“Di bagian belakang itu saya bangun tiga lantai. Dulu asalnya dapur,” kata Kiai Asep Safuddin Chalim kepada M Mas’ud Adnan, Pemimpin Umum HARIAN BANGSA dan BANGSONLINE.com di Guest House Institut KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur.

“Saat itu kantor PCNU Kota Surabaya termegah se-Indonesia,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu. Ia mengaku bahwa saat itu ia sangat dekat dengan Wali Kota Surabaya Sunarto Sumoprawiro. Ia bahkan terus terang bahwa uang untuk membeli MBODT itu di antaranya disumbang wali kota itu. “Namun tak lepas dari pengorbanan uang pribadi,” tambahnya.

Karena itu, ia menyayangkan para rival politiknya di NU yang menuduh berlebihan. Ia dianggap jadi kaya karena dapat uang dari wali kota. Padahal dana-dana sumbangan itu untuk program-program NU.

“Dulu kondisi keuangan saya kan tidak seperti sekarang. Kalau sekarang saya kan gak pernah mau disumbang siapa pun karena saya dan pesantren saya sudah lebih dari cukup,” kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa istrinya marah jika ia menerima sumbangan dari pihak luar.

Namun ia memaklumi tuduhan-tuduhan negatif terhadap dirinya saat itu. Karena ketika ia jadi ketua PCNU Kota Surabaya memang banyak membeli inventaris untuk PCNU Kota Surabaya. “Selain membangun kantor, saya beli mobil untuk investaris kantor PCNU. Saya juga beli puluhan mesin ketik elektrik untuk inventaris PCNU,” kata Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, mungkin karena banyak belanja inventaris kantor PCNU itu lalu muncul kecemburuan. “Mereka mengira kalau saya bisa seperti itu, mereka juga merasa bisa seperti saya,” kata Kiai Asep menduga.

Karena itu, tutur Kiai Asep, saat maju sebagai calon ketua PCNU Kota Surabaya untuk periode kedua ia dijegal. “Saya dijegal lewat tata tertib dengan alasan saya anggota DPRD,” kata Kiai Asep. Padahal Kiai Asep mengaku sudah menyatakan mundur sebagai anggota DPRD Kota Surabaya. Kiai Asep memang hanya beberapa bulan jadi anggota DPRD Kota Surabaya.

Yang mengherankan, tutur Kiai Asep, tatib pemlihan ketua itu ditetapkan saat jam istirahat sehingga banyak yang tak ikut. “Banyak ranting-ranting NU nangis karena saya terganjal. Akhirnya saya mundur sebagai calon (ketua PCNU),” kata Kiai Asep.

Menurut dia, di antara pengurus NU yang mengganjal ia maju sebagai calon ketua PCNU periode kedua adalah Mubarok dan beberapa pengurus NU lain. “Mubarok menjegal saya dengan cara-cara yang brutal. Tapi saya tidak dendam. Saat itu memang sedih tapi sekarang saya malah berterima kasih kepada Mubarok dan yang lain. Karena kalau saya gak diganjal dan saya jadi ketua PCNU periode kedua, mungkin saya tak punya pesantren besar seperti sekarang,” katanya.

Sebab, menurut Kiai Asep, saat itu ia punya program besar untuk NU. “Kalau saya jadi ketua PCNU periode kedua, berarti selama lima tahun saya fokus untuk mewujudkan program itu, kemungkinan saya tak bisa mendirikan pesantren seperti sekarang,” katanya.

Apa program besar Kiai Asep untuk NU saat itu? “Saya mau menjadikan MBODT itu sebagai museum nasional,” kata putra KH Abdul Chalim Luwimunding, salah seorang kiai pendiri NU itu. Menurut Kiai Asep, tak jauh dari MBODT itu ada tanah kosong. “Tanah itu mau saya beli untuk dibangun hotel dan perpustakaan nasional. Jadi hotel itu mau saya buat tempat nginap atau transit kalau ada pengurus atau kiai NU dari daerah lain ke Jawa Timur,” kata Kiai Asep. Ia optimistis program besar itu terwujud karena semua rencana sudah dipersiapkan.

"Tapi ternyata saya dijegal dalam pemilihan ketua PCNU untuk periode kedua," kata Kiai Asep. Akhirnya program besar itu terbengkalai.

"Gak papa. Tapi seharusnya, program saya itu kan diteruskan oleh ketua dan pengurus baru pengganti saya. Kan arsip dan dokumentasi program saya itu pasti ada di PCNU," katanya sembari menuturkan bahwa ketua baru yang terpilih adalah KH Abd Cholid, Ketua Tanfdziyah dan KH Miftahul Achyar, Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya.

Namun, sekali lagi, ia bersyukur telah dijegal sehingga ia gagal menjadi ketua PCNU Kota Surabaya periode kedua. Dengan demikian ia bisa mewujudkan mimpi besarnya, yaitu membangun pondok pesantren bertaraf internasional yang santrinya mencapai 10.000 lebih dari seluruh Indonesia dan luar negeri.

Menurut dia, gagasan besar terwujud tak lepas dari tangan orang besar yang memang ditunjuk oleh Allah SWT. Cuma ia menyayangkan kenapa pengurus baru yang mengganti dirinya kok tidak bisa mewujudkan gagasan-gagasan besar yang sudah ia programkan.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, napak tilas tempat bersejarah Markas Besar Oelama Djawa Timoer yang populer dengan nama MBODT dilakukan PWNU, tiga hari setelah Kiai Asep tandatangan pemindahan hak milik kepada PBNU. MBODT Djawa Timoer dikenal sebagai markas para ulama NU yang berperang melawan penjajah terutama dalam pertempuran 10 November Surabaya. Pada perang inilah Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad.

Kiai Asep membeli MBODT itu awalnya karena diperintah Gus Dur. Saat itu Kiai Asep sedang menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Surabaya. Sedang Gus Dur Ketua Umum PBNU.

Menurut Kiai Asep, tak mudah mencari di mana dan siapa yang punya hak milik tempat bersejarah itu. Namun karena perintah dari Gus Dur, maka Kiai Asep bekerja keras menelusuri, mencari gedung dan tanah MBODT itu.

Akhirnya tanah dan gedung MBODT itu ditemukan di Jalan Satria RT 17 RW 03 Kedungrejo Waru Sidoarjo Jawa Timur. Kiai Asep langsung laporan kepada Gus Dur, kalau MBODT sudah ditemukan.

Bagaimana respons Gus Dur? “Yo tukuen…! (Ya dibeli…!),” kata Kiai Asep menirukan perintah Gus Dur sembari tersenyum. Padahal saat itu kondisi ekonomi Kiai Asep belum seperti sekarang.

“Kondisi keuangan saya saat itu masih pas-pasan,” kata Kiai Asep sembari tersenyum. Namun Kiai Asep tak mengeluh. Ia justru berusaha cari uang agar aset bersejarah itu bisa diselamatkan.

“Saya carikan uang. Ya tak lepas dari pengorbanan uang pribadi,” kata kiai yang kini memiliki santri 10.000 orang lebih itu.

Kiai Asep lalu berusaha mengumpulkan uang untuk membeli MBODT itu sesuai perintah Gus Dur. “Saat itu MBODT saya beli Rp 110 juta lebih. Kalau uang sekarang sekitar Rp 1 Miliar,” tutur Kiai Asep yang kini Ketua Umum Pergunu dan memberikan beasiswa kepada ratusan guru untuk kuliah S! dan S2 di Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur. (tim)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Senin, 09 Desember 2019 06:11 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Untuk menyambut peringatan hari jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-248 pada 18 Desember 2019, Kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java ini menggelar parade seni budaya Kuwung dengan tema "Gumelare Bumi Blambangan" Sab...
Senin, 09 Desember 2019 23:53 WIB
Oleh: Sila Basuki, S.H., M.B.A. Tren kemenangan seorang calon independen dalam pilkada Kota Surabaya akan sangat mungkin terjadi, mengingat di beberapa kota lain juga bisa terjadi. Berkat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, tentang p...
Sabtu, 30 November 2019 20:10 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*76. Wa-in kaaduu layastafizzuunaka mina al-ardhi liyukhrijuuka minhaa wa-idzan laa yalbatsuuna khilaafaka illaa qaliilaan.Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri (Mekah) karena engkau h...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...