Selasa, 11 Agustus 2020 16:50

​Dies Natalis ke-55, Stikosa-AWS Tumpengan, Dihadiri para Wartawan Senior

Senin, 11 November 2019 15:52 WIB
Editor: Tim
​Dies Natalis ke-55, Stikosa-AWS Tumpengan, Dihadiri para Wartawan Senior
Ketua Stikosa-AWS yang baru, Prida Ariani Ambar Astuti, S.Sos., M.Si., Ph.D saat memberi sambutan pada Dies Natalis ke-55 Stikosa-AWS di kampusnya Jalan Nginden Intan Timur I No. 18, Surabaya, Senin (11/11/2019). foto: BANGSAONLINE.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) Surabaya menggelar Dies Natalis ke-55, Senin (11/11/2019). Acara yang dimulai sekitar pukul 10.30 itu digelar di beranda kampus Jalan Nginden Intan Timur I No.18, Surabaya dengan motong dua tumpeng. Tampak para pendiri, dosen dan alumni Stikosa-AWS hadir, disamping para wartawan senior. Antara lain: Amak Syarifuddin, Utoyo, Mas’ud Sukemi, Hadiaman Santoso, Sirikit Syah, Ignatius Ismoyo, Basis Susilo, Andarini, Jauhari, Fajar Afrianto Isnugroho, Soini, Ratna, Priyatmoko, dan tentu saja Ketua Stikosa-AWS yang baru, Prida Ariani Ambar Astuti, S.Sos, M.Si, Ph.D. Tampak juga Ainur Rofiq, Ketua PWI Jawa Timur Ainur dan M Mas’ud Adnan, alumni Stikosa-AWS yang kini Komisaris Utama HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com. 

(Prida Ariani Ambar Astuti dan Hadiaman Santoso memotong tumpeng. foto: BANGSAONLINE.com)

Drs. Mas’ud Sukemi, M.Si, Wakil Ketua II Stikosa-AWS saat memberi sambutan tentang sejarah berdirinya Stikosa-AWS mengatakan bahwa sekolah tinggi ini berdiri pada 1964. Menurut dia, sekolah tinggi ini berdiri berawal dari kepedulian para wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surabaya. “Awalnya bekerja sama dengan UGM,” kata Mas’ud Sukemi. Dalam perkembangannya bekerja sama dengan Unair.

(Mas'ud Sukemi (paling kanan baju batik), Hadianman Santoso (baju merah), Amak Syarifuddin dan Prida Ariani Ambar Astuti (paling kiri) memberi tumpeng kepada Amak Syarifuddin). foto: BANGSAONLINE.com)

Mas'ud Sukemi mengucapkan terima kasih karena para sesepuh dan dosen serta alumni Stikosa-AWS hadir dalam acara tasyakuran Dies Natalis ke-55 ini. Ia menyebut satu persatu hingga para alumni. "Dari alumni ada Pak Mas'ud Adnan CEO HARIAN BANGSA," kata Mas'ud Sukemi. 

Prida Ariani Ambar Astuti yang baru terpilih sebagai ketua Stikosa-AWS mengaku masih akan mempelajari lambang Stikosa-AWS yang bertumpu pada Pancasila karena dia bukan alumni, sehingga belum banyak tahu tentang sekolah tinggi ini. “Terpilihnya saya sebenarnya suatu kecelakaan,” kata Prida bercanda. Ia minta dukungan dari berbagai pihak agar bisa memimpin Stikosa-AWS dalam periode 2019-2023.

Sementara M Mas’ud Adnan sebagai alumni mengaku senang bisa hadir di almamaternya. Apalagi ia bisa bertemu dengan para teman kuliah dan para dosen yang mengajarnya. “Pak Priyatmoko itu dosen saya di Stikosa-AWS dan juga dosen saya di pascasarjana Unair. Bahkan Pak Priyatmoko pembimbing tesis saya di Unair,” kata Mas’ud Adnan di sela-sela acara Dies Natalis.

(M. Mas'ud Adnan (paling kiri), Priyatmoko (batik merah) dan Utoyo. foto: BANGSAONLINE.com)

Sejarah berdirinya Stikosa-AWS tak lepas dari A. Aziz, wartawan asal Madura. A. Azis kemudian dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik Surabaya Post, harian sore legendaris yang terbit di Surabaya. A. Aziz berembuk dengan R Moejadi Notowardojo, Kepala Jawatan Penerangan Propinsi Jawa Timur untuk mendirikan lembaga pendidikan wartawan.

Dikutip dari sejarah Stikosa-AWS, saat itu A. Azis, yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Surabaya (Jawa Timur), mengungkapkan pentingnya kontribusi wartawan memiliki etika, pengetahuan dan profesionalime yang tinggi.

Pemikiran A. Aziz itu mendapat apresiasi R. Moeljadi Notowardojo. Mereka sepakat untuk melibatkan para pemimpin instansi pemerintahan yang mempunyai kaitan dengan pekerjaan kewartawanan dan pers saat itu.

Mereka kemudian menunjuk Singgih (wartawan harian Indonesian Daily News) untuk pelaksanaan teknisnya, dengan dibantu Ketua seksi pendidikan PWI, Amak Syarifuddin (wakil pemimpin redaksi majalah Skets Masa saat itu).

Saat itulah disepakati mendirikan lembaga pendidikan tinggi berjenjang “akademi” dengan nama “Akademi Wartawan Surabaya (AWS)”. Awalnya bertempat di Jalan Kapasari Surabaya. Beberapa tenaga pengajar AWS berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, karena saat itu UGM merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang memiliki fakultas Sosial-Politik dengan jurusan Publisistik. Namun dalam perkembangan berikutnya AWS banyak bekerjasama dengan Unair. Karena itu banyak dosen Unair yang mengajar di Stikosa-AWS.

A.Aziz sebagai pemilik Surabaya Post banyak menyuplai dana untuk biaya operasional AWS. Begitu juga Departemen Penerangan (Depen) Jawa Timur terlibat langsung dalam operasional AWS. Bahkan hingga tahun 80-an Kepala Depen Jawa Timur otomatis jadi Ketua AWS yang pada 1984 menjadi Stikosa-AWS.

Hingga kini Stikosa-AWS dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi yang kiprahnya sangat signifikan karena telah banyak melahirkan wartawan yang kini tersebar di seluruh Indonesia. 

Selamat dan sukses Hari Lahir atau Dies Natalis ke-55 Stikosa-AWS. Semoga semakin jaya dan para alumninya bermanfaat bagi bangsa Indonesia  (tim)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Senin, 10 Agustus 2020 18:53 WIB
Oleh: M Mas'ud AdnanApollinaris Darmawan - seorang kakek – sangat rajin menghina dan memfitnah agama Islam dan Nabi Muhammad. Dari jejak digitalnya, Apollinaris yang non muslim itu kurang lebih 10 tahun menghina Islam dan juga tokoh-tokoh Islam ...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...