Dr. Airlangga Pribadi Kusman. foto: istimewa/ bangsaonline.com
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pengamat politik Dr Airlangga Pribadi Kusman menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terlalu terbawa persaan (baper) dan terkesan anti kritik terkait kondisi Gelora Bung Tomo (GBT). Menurut dia, pernyataan sejumlah pejabat Pemkot Surabaya terkesan terlalu emosional dalam menanggapi pernyataan Gubernur Jawa Timur perihal aroma sampah yang kerap tercium di stadion GBT.
Padahal sejumlah kalangan - termasuk bonek - mengakui bahwa bau sampah itu sering menyengat saat pertandingan sepak bola.
BACA JUGA:
- Wali Kota Eri Cahyadi Tunjuk Wawali Armuji dan Syamsul Hariadi Isi Posisi Plh Selama Tunaikan Ibadah
- Dampingi Sheikh Afeefuddin di Ponpes Genggong, Gubernur Khofifah: Pesantren Benteng Moral Jatim
- Kado HJKS ke-733, Pemkot Surabaya Tambah Empat Mobil Perpustakaan Listrik
- Gubernur Khofifah Bahas Kerja Sama Jatim-Yaman di Grahadi
Dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengatakan, semestinya pernyataan tersebut dimaknai sebagai rasa perhatian dan rasa sayang Gubernur Jatim terhadap pengelolaan Kota Surabaya, termasuk warga Surabaya dan supporter Surabaya, Bonek Mania.
"Bukan sebaliknya, justru kembali menyerang Gubernur. Toh apa yang disampaikan itu adalah fakta sebenarnya, mengingat posisi GBT berdekatan dengan TPA Benowo. Jangan baper, harusnya ini menjadi bahan introspeksi," kata Angga - panggilan Airlangga Pribadi Kusman - saat ditemui di Surabaya, Ahad (3/11/2019).
Menurut Angga, komentar Khofifah semata-mata agar Pemkot Surabaya membenahi pengelolaan sampah, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Stadion GBT. Mengingat GBT merupakan salah satu stadion yang diajukan ke FIFA untuk menjadi venue pertandingan Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.
“Sebenarnya hal itu tidak perlu direspons reaktif, karena respons reaktif itu justru menghalangi pembenahan Kota Surabaya, yang saat ini sudah baik justru lebih baik lagi,” katanya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




