Ketua KPPL-I Jawa Timur, Ony Mahardika (memegang micropone). foto: istimewa.
Selain harus mengundang semua produsen plastik ramah lingkungan terkait produk plastik ramah lingkungan, Pemkot Surabaya diminta mengeluarkan kebijakan yang tidak menimbulkan polemik serta kebingungan masyarakat mengenai plastik ramah lingkungan. Tidak adanya kejelasan dan kesiapan pemerintah kota untuk mengurangi sampah plastiknya, justru malah dapat memunculkan apatisme di kalangan masyarakat yang sudah mulai muncul kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik konvensional yang tidak ramah lingkungan.
“Pemkot Surabaya kalau memang serius mengurangi sampah plastik menjadi lebih ramah lingkungan, maka semua produk industrialisasi yang sudah beralih pada konteks ramah lingkungan ya harus didukung, jangan hanya mengundang satu pihak saja,” lanjut Ony Mahardika.
Dalam surat tanggapan yang juga diterima KPPL-I, Greenhope (PT Harapan Interaksi Swadaya) yang merupakan perusahaan pemegang merk dagang, paten, dan produsen teknologi plastik mudah terurai: Oxium (plastik bio-degradable), Ecoplas & Naturloop (teknologi plastik dari singkong), menyatakan keberatan karena produknya dianggap hanya degradable, dan tidak bio-degradable.
Pernyataan itu dapat menimbulkan miskonsepsi dan kebingungan pada konsumen, peritel, serta masyarakat umum. Pernyataan yang tidak berimbang tersebut juga termasuk pencemaran nama baik dan kerugian komersial yang tidak sedikit. Surat keberatan tersebut juga dilayangkan kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) karena dampak dari praktik tidak transparan dan sepihak seperti ini tentunya akan merugikan konsumen dan merampas hak pilih rakyat dan konsumen terhadap pilihan-pilihan kantong Ramah Lingkungan.
Apalagi satu-satunya teknologi yang disinyalir dipilih ini harganya jauh lebih mahal dari yang ada sekarang. Komisi Pengawas Persaingan Usaha pun sudah disurati juga dan akan segera dilibatkan karena jelas ini melanggar praktik-praktik berkompetisi secara sehat, jika seolah ingin menggunakan regulasi yang hanya menyempit ke satu teknologi dan menggiring semua pemakai ke sana.
Plastik bio-degradable merk Oxium menurut Greenhope adalah adiktif yang terbuat dari mineral alami tanpa logam berat, yang mampu mengurai plastik konvensional secara alami dan sepenuhnya terurai dimakan mikroba menjadi H2O, CO2 dan Biomassa. Produk ini telah melalui uji menggunakan standard pengujian dari Amerika, ASTM D6954, serta penelitian lain di dalam dan luar negeri. Sedangkan Ecoplas adalah bioplastik yang terbuat dari pati singkong yang dicangkok menyebabkan dapat dimakan mikroba/biodegradable. Kedua teknologi juga sudah melalui dan mendapat paten di Amerika Serikat, Singapore, dan Indonesia, jadi sudah sangat kredibel.
“KPPL-I berharap Pemkot Surabaya, khususnya DLH, melibatkan semua pihak yang mempunyai kemauan baik untuk mengurangi sampah plastik di TPA. Jangan sampai nanti terkesan ada permainan. Kebijakan terkait plastik ramah lingkungan harus segera dikeluarkan, kalau Pemkot Surabaya serius ingun mengurangi sampah plastik,” tandas Ony Mahardika. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




