Abdul Muni, warga Dusun Durbugen, Desa Bungbharuh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan menceritakan pengalamannya dikejar massa saat kerusuhan Wamena.
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Sejumlah warga Pamekasan yang merantau ke Wamena sudah kembali kampung halaman. Di antara perantau asal Pamekasan yang pulang akibat kerusuhan di Wawena itu adalah Abdul Muni, warga Dusun Durbugen, Desa Bungbharuh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura.
Ia merupakan salah satu korban kerusuhan Wamena yang berhasil lolos dari kejaran massa, meski harus mengalami luka bakar di lengannya.
BACA JUGA:
- Dihadiri Mendikdasmen, Puluhan Siswa Pingsan Saat Senam Anak Indonesia Sehat di Pamekasan
- Dugaan Penipuan Umrah di Pamekasan Memanas, Korban Kini Digugat Balik Agensi
- Bupati Pamekasan Tiga Kali Tinjau SGMRP Demi Sukseskan Puncak Hardiknas Jatim 2026
- Jelang Iduladha, PLN ULP Pamekasan Perkuat Jaringan demi Cegah Gangguan Listrik
Kini luka bakar itu membekas di bagian lengan kanannya sepanjang 40 sentimeter, juga di pelipis bagian sebelah kanan.
Abdul Muni yang ditemui wartawan di rumahnya, menceritakan kronologi ia bisa lolos dari peristiwa kerusuhan yang terjadi di Wamena pada 25 September 2019.
Saat itu pukul 09.00 WIT, ia sedang berada di dalam kios miliknya yang berada di Kampung Hom-Hom, Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya, Provinsi Papua.
Tiba-tiba, sejumlah massa datang dengan membawa panah, parang, dan gergaji rantai (senso). Lalu massa menebang sejumlah pohon yang tumbuh di pinggir jalan Kampung Hom-Hom dan melakukan penutupan jalan dengan pohon yang sudah ditebang.
Bukan hanya itu saja, sejumlah massa tersebut juga membakar semua bangunan yang berada di Kampung Hom-Hom, sembari berteriak akan membunuh semua warga pendatang.
Mendengar teriakan itu, Abdul Muni langsung keluar dari dalam kiosnya bersama dengan temannya.
Ia juga tidak sempat membereskan barang-barang berharga yang berada di dalam kiosnya tersebut. Ketika dirinya keluar, tiba-tiba kios miliknya, sebagian sudah terbakar dan di luar banyak massa yang menunggu.
"Lalu saya bersama teman saya itu keluar dari dalam kios dan saya bilang ke massa itu kalau di dalam masih ada dua warga pendatang lagi," katanya, Selasa (8/10/19).
"Namun massa yang sudah kelihatan bringas itu justru bilang 'bunuh-bunuh'. Tanpa pikir panjang, saya langsung lari ke rumah sebelah yang belum dibakar," tuturnya.
"Saat itu saya langsung naik ke plafon rumah untuk bersembunyi dan tidak bisa turun karena di luar banyak massa," katanya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




