Sabtu, 25 Mei 2019 14:56

Sumamburat: “Ana Shooimun”

Rabu, 08 Mei 2019 10:00 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Sumamburat: “Ana Shooimun”
Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo *

INI bulan yang dinanti karena banyak memberi rezeki. Demikian tinggi yakinku terhadap bulan ini mengingat beragam kegiatan dihelat penuh semarak di seantero negeri. Santri-santri kecil di pedesaan wilayah Lamongan atau Gresik meski kebanjiran terus saja melangkah.

Makam-makam Islam penuh dengan taburan bunga, apalagi doa yang ditebar oleh jiwa-jiwa beriman yang rindu kepada leluhurnya. Doa dipanjatkan tanpa tahu etape tangganya yang tiada akhir. Ramainya kampung halaman dengan anak-anak yang bermain di Masjid sebagai penanda datangnya pengharapan yang penuh berkah atasnya.

Saya menyaksikan seluruh kelebat umat yang mempersiapkan segalanya dalam menyambut bulan ini lebih dari makna di hari pencoblosan pemilu 17 April 2019 lalu. Kini, saat yang dinanti telah tiba dengan selamat. 1 Ramadhan 1440 Hijriyah, para pengiman dalam ruang Islam beribadah puasa untuk meningkatkan ketakwaan. Begitulah diajarkan dalam Kalam Suci yang dihafalkan setiap mengawali puasa. Sungguh Ramadhan meluaskan areal jelajah pengabdian yang tiada tepi dan garis demarkasi, antara hamba dengan Rabbnya.

Bulan yang kepadanya segala hikmah dipersembahkan. Pintu-pintu keberkahan dibuka dalam rentang melantingkan pertobatan dengan daya lenting yang gemahnya sepanjang hayat pemanggul tauhid-Nya. Pengampunan, rahmat dan kemuliaan digelar dengan segala ornamen istimewa yang melekat pada “pengembara” Ramadhan.

Secara seloroh saya meyakini bahwa bulan ini juga penuh rejeki yang akhirnya saja undangan buka bersama terus terjadi setiap hari. Lantas THR mengikuti dengan kelindan bersama kaum buruh tanpa perlu demonstrasi. Bulan puasa ini justru berkesejatian amat sangat ngrejekeni. Bahkan tidurnya orang yang berpuasa menyemaikan berberkas kebaikan dengan limpahan pahala, apalagi yang terjaga dengan lentera pemandu memberi teladan, pastilah Allah swt melipatgandakan derajatnya.

Tidak ada yang sia-sia dalam setiap detak langkah dan pijaran sinyal berpuasa di mongso Ramadhan. Tidakkah jiwa pemuasa mengerti betul betapa diwulan poso itu segala keagungan dibeber dalam persembahan tunggal untuk keunggulan manusia dalam mencapai maqom takwa.

Takwa adalah supremasi paling terhormat yang ditanam sekaligus dipanen siapa saja yang berpuasa. Puasamerupakan peribadatan yang sangat “tidak terjamah” karena secara anatomis maupun “bahasa tubuh” amatlah rahasia. Eksistensi dan fungsi puasa memiliki frekuensi khusus terhadap jejaring Tuhan. Inilah ibadah yang sejatinya tidak dapat dideteksi manusia melalui kelekatan ekspresinya, selain Allah swt sendiri.

Untuk memberikan bonus amaliah puasa,ternyata Allah swttidak dibantu “ajudan” sebagaimana pemberian “wahyu” maupun piranti takdir lainnya. Allah swt sangat sungguh-sungguh dalam mengambil kendali langsung atas “tanda jasa” yang hendak diberikan-Nya kepada pribadi pemuasa.

Puasamu-puasaku-puasa kita niscaya menjadi media komunikasi yang paling terang tanpa gangguan “android ragawi” karena Allah swt hadir pada setiap deret kegiatan pelaku puasa. Maka tidaklah elok kalau kita main-main terhadap keajaiban menjalankan ibadah puasa ini. Tekadkan secara sempurna untuk berpuasa dengan deklarasi lelaku yang sudah sangat umum: berniat.

Puasa pasti digerakkan dengan niat sebagai inti keberangkatan penjelajahan jiwa-raga para pemuasa. Ucapkan dan laksanakanseluruh sendi peribadan untuk memasuki gerbang terhormat bulan Ramadhan 1440 H. Niat Ingsun Poso adalah penanda untuk terselenggarakannya panggung puasa Ramadhan yang memiliki beragam fenomena syariat yang sangat fenomenal: bertadarus, nderesKitab Suci, tiada henti untuk melantunkan ayat-ayat Illahi yang ternarasikan dalam Alquran.

Niat Ingsun Poso merefleksikan ujaran perjanjian yang sangat kontraktual dalam bingkai menjalankan ajaran-Nya bagi umat yang menyadari bahwa puasa memang harus digerakkan dari niat selaku fundamen keabsahannya.

Kata ingsun berkelindan dalam titik-titik ruhani untuk memaujudkan diri ini dalam telungkup kuasa Allah swt. Hamba mengerdilkan diri di haribaan-Mu yang hanya dapat dinalar dari kelambu semesta yang tengah terbentang. Betapa agung dan dahsyatnya kuasa-Nya dan manusia dengan puasa “mengikuti rute Illahiyah”. Beribadahlah, berpuasalah tanpa berpikir tentang bonus, melainkan hanya atas nama keimanan.

Inilah segmen harian selama setahun yang “dikurikulumkan” khusus untuk manusia beriman melalui mekanisme penyambutan bulan Ramadhan yang penuh suka cita. Berpuasa berarti menahan diri terhadap segala hal, bukan sekadar makan minum, haus dan dahaga, tetapi “mepes rogo njelentreh sukmo”, menahan nafsu untuk nendapatkan jalan kesempurnaan. Berpuasa itu ber-“ihdinashshiratal mustaqim”.

Berpuasa itu “bersahutan” dengan “rotasi penyadaran diri” yang hanya diutamakanbagi penjelajah yang tahu posisi. Mari terus menerus belajar berpuasa dari setiap “daun yang melambai”, sebelum puasa diubah selaksa guguran bungasaat “saur tengah malam”. Sampai di sini saya belum berkenan ngudoroso soal kecurangan pemilu yang semakin dahsyat terpanggungkan karena saya menyadarinya: Inni-shooimun – Ana Shooimun. SELAMAT BERAMADHAN.

*Dr. H. Suparto Wijoyo, Coordinator of Law and Development Master Program Post Graduate School Universitas Airlangga, Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Ketua Pusat Kajian Mitra Otonomi Daerah Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Lamongan.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Suparto Wijoyo
Rabu, 22 Mei 2019 11:24 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SAYA menyaksikan penuh kagum terhadap para kompetitor yang menyorong sekehendaknya. Dengan nyaman menikmati gelisah rakyat yang sangat mayoritas. Para promotor pertandingan tergiring dalam alun langkahnya dengan kosa laku yang...
Sabtu, 18 Mei 2019 12:13 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag41. Walaqad sharrafnaa fii haadzaa alqur-aani liyadzdzakkaruu wamaa yaziiduhum illaa nufuuraanDan sungguh, dalam Al-Qur'an ini telah Kami (jelaskan) berulang-ulang (peringatan), agar mereka selalu ingat. Tetapi (p...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Jumat, 17 Mei 2019 16:44 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...