Selasa, 11 Desember 2018 04:05

Sumamburat: Reuni yang Merindu Diri

Rabu, 05 Desember 2018 15:19 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: --
Sumamburat: Reuni yang Merindu Diri
Suparto Wijoyo.

Oleh: Suparto Wijoyo*

ADALAH Kang Mamat Becak dan Cak Jamal Roti. Begitulah kosmologi kota ini memberikan julukan sejurus profesinya. Bukan penguasa dan pengusaha yang berdasi nan berbatik penuh gengsi karena dagangannya merambah seluruh jengkal negeri. Juga bukan PNS-ASN yang setiap bulan menentu pendapatannya. Bukan pula pengajar, ustadz, kiai, santri atau anggota ormas kepemudaan yang seragamnya uniform seperti atribut TNI, sehingga dikira dirinya punggawa NKRI sebagaimana dipertontonkan selama ini. Dengan berseragam mereka tampil “seru dan gagah”, pun biasa membubar-bubarkan pengajian sambil menjaga tempat ibadah mereka yang meski tidak seiman atas nama kebangsaan yang ganjil.

Dari sebutan namanya orang sudah tahu siapa sejatinya Kang Mamat itu. Sebutan sebuah pesan yang biarlah saya ekspresikan dalam renung karena dia tidak berkenan disuarakan dalam dialog yang atasnyalah saya meneteskan haru, membanjiri jiwa dengan air batin tiada tara. Kang Mamat biasa mangkal dengan kendaraan becak klasiknya, bukan becak motor seperti yang kini meramaikan modernisasi alat transportasi. Di Surabaya bagian Tenggara, Kang Mamat berjelajah memberikan jasanya yang tidak menentu kelarisannya. Kalau mengikuti fluktuasi rupiah agaklah lumayan, melainkan selaksa jalannya ingus yang naik turun secara tajam. Itulah takdir yang telah menyerta Kang Mamat. Tidak lebih berpenghasilan 20 ribu rupiah sampai pada titik yang sangat nihil untuk ukuran hidup di metropolitan. Uang 50 ribu rupiah merupakan anugrah terbesar apabila dia mendapatkannya di suatu hari yang dikenang.

Demikian jua Cak Jamal yang pedagang keliling sambil membonceng berpuluh roti memasuki lorong-lorong kota di sisi selatan Surabaya. Dia rajin setiap pagi menyapa pelanggan seusai menjalankan shalat subuh berjamaah di masjid kawasannya. Dia berangkat dengan niat mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak yang sekolah berjumlah lebih dari tiga. Kang Mamat kondisinya seperhaluan. Keuntungan menjajakan roti mengikuti derasnya keringat, mengingat dia berjualan bukan mengendarai sepeda motor melainkan bersepeda pancal. Keringat dan desah nafas perjuangannya sangatlah kentara.

Orang-orang ini memberikan kesadaran bertauhid yang menghujam kepada saya. Dia baru saja datang menginjakkan kaki dan hatinya sambil merabakan tangannya kepada atmosfer iman di kampung halaman. Keduanya bercerita melalui angin dan kiriman awan untuk selanjutnya membungkus saya punya ruhani untuk sudi mendengarkan mengenai apa yang dipetiknya dari Jakarta. Oalah … Kang Mamat dan Cak Jamal yang beberapa hari ini memang tidak melintasi ruang pelanggannya ternyata berangkat ke Monas. Tepatnya ikut acara Reuni Akbar 212 yang “diboikot” oleh sebagian besar TV maupun media lainnya yang telah bergerak menjadi “agen partisan”. Media mereka hanya menyuarakan kepentingan pemegang saham dan kaum yang bersimpuh dengan agendanya sendiri, yaitu membopong “juragan demokrasi pura-pura”.

Terpotret ada media yang sangat “berpihak dan kehilangan maknanya sebagai penyambung kebenaran atas nama rakyat”. Sikapnya sebatas ikut-ikutan dengan curiga yang tidak pernah bergeser dari soal dikira aksi ini “merayakan kebencian” atas pelaku yang dipuja-puja hingga difilm-filmkan seolah sebagai korban “penghasutan” kerumunan yang dinamakan Aksi 212. Padahal Putusan institusi hukum menyatakan bahwa dialah penista agama, dan putusan itu diterima dengan kesadaran dirinya terbukti menjalani hukuman meski tidak tinggal di lembaga pemasyarakatan. Itulah justru yang seharusnya dijadikan ajang untuk meluruskan jalan hukum di negeri ini agar sesuai dengan cita dasar negara hukum itu sendiri.

Kang Mamat dan Cak Jamal datang dengan menabung selama setahun dan kini sudang ancang-ancang lagi untuk membuka tabungan gentong yang lebih besar agar kelak dapat mengajak anak-istrinya di tahun depan, 2 Desember 2019. Semangatnya luar biasa walaupun keduanya ternyata bukan alumni. Dia terpanggil untuk ikut sambil bergiat menggenjot becak dan jual roti keliling yang sejatinya berpenghasilan pas-pasan. Tetapi Allah SWT memang memberikan yang pas untuknya. Pas dapat berangkat dan selama di Monas diceritakan rezeki semakin melimpah sebab antarsesama saudara saling membantu dengan tidur di masjid atau kerja memijat jamaah lainnya dengan ongkos yang melebihi biaya untuk pulang. Alhamdulillah.

Dia terpanggil ikut Reuni Akbar 212 hanya karena terdapat bayangan iman di “Alun-alun Mahsar”. Terceritakan oleh ruas tauhidnya bahwa di Lapongan Monas Akhirat itu akan bergerombol orang-orang beriman seperti waktu Shalat Jumat terbesar dalam sejarah Bumi, 2 Desember 2016 lalu itu. Dia membayangkan bagaimana kalau nanti di akhirat itu orang-orang itu berjamaah besar mengarungi mahsar dan formasinya menuju jalan ke surga. Jamaah yang memutih yang dia saksikan dari televisi itu menggetarkan jiwanya untuk ikut, karena dia khawatir kalau kelak dia tidak berbaris segaris dengan orang yang shalat Jumat berjaah terhebat itu. Jadi jejak batinnya terpanggil untuk sebarisan saudara-saudara muslimnya dalam jamaah shalat yang menyejarah itu. Dia tidak ingin dipisahkan dari jamaah itu yang nyata-nyata sangat spektakuler. Tidak ada aksi berjuta-juta orang yang berlangsung sedemikian indah, tertib dan bersih serta tidak rebutan nasi bungkus jatah.

Reuni 212 itu merupakan gelombang yang dirindukan berjuta-juta Kang Mamat dan Cak Jamal. Jujurlah kepada Reuni 212 ini, sebuah reuni yang memanggil jiwa-jiwa Kang Mamat dan Cak Jamal untuk menyatukan diri bersama “gelombang putih” yang dia bayangkan seperti di akhirat kelak. Dan itu sah tanpa perlu diliput tivi yang sok super tetapi semakin tampak “kuper”.

*Dr H Suparto Wijoyo: Esais, Pengajar Hukum Lingkungan Fakultas Hukum, Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum Universitas Airlangga serta Ketua Pusat Kajian Mitra Otonomi Daerah Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Jumat, 07 Desember 2018 13:40 WIB
Oleh: Muchammad Toha*Terlalu pagi saya mendarat di Bandara Hang Nadim, karena untuk sampai di Batam tanpa transit di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta dapatnya pesawat pagi. Maka, cukup alasan hotel untuk tidak memberikan kamar pada saya. Bah...
Senin, 03 Desember 2018 14:30 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba wak...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...