Sumamburat: Surabaya Membara, Memanggilmu

Sumamburat: Surabaya Membara, Memanggilmu Suparto Wijoyo.

Kematian dan luka itu menyebar mewarnai mendung pemberitaan dan semua sontak berkomentar tentang adegan yang sangat realistis sambil memberikan kesaksian tentang jalannya peristiwa Jumat malam yang menghantar maut. Kepolisian sibuk bekerja dan panitia penyelenggara Membara dimintai keterangan serta “penguasa rel Kerata Api” tidak luput terbawa arus hukum mengenai proses yang sedang bergerak dalam kelambu proseduralnya. Pejabat kota mengeluarkan pernyataan yang menandakan sikapnya yang tidak tahu atas agenda Membara. Adapun “pemilik kereta api” pun hendak lari meninggalkan etape untuk proses hukum dengan dalih yang didalilkan ada “imunitas kerata api”. Hukum dijunjung tinggi dengan undang-undang yang mengatur persepuran, dan khalayak diminta mengerti tentang “proteksi” dirinya yang kebal hukum.

Kematian orang di perlintasan kereta api yang berpalang pintu ataupun tidak, selama ini tetaplah kesalahan korban, bukan dilihat kesalahan korporasi kereta yang “mau melintas tetapi ogah memberi palang pintu perlintasan”. Kelalaian mereka menyediakan palang pintu dan infrastruktur “kerata panjang” mestinya dapat dimintai pertanggungjawan hukum. Biarlah ini menjadi diskusi esok hari.

Simaklah. Viaduk itu menyaksikan fakta kini semakin memperkaya ceritanya. Di sinilah pertempuran hebat terjadi pada saat pengeboman sekutu atas Kota . Selanjutnya ada tambahan ceritanya, yaitu adanya heroisme orang yang rela berjubel, mendaki jalan sempit, tanjakan terjal tanah pinggir rel, untuk menaiki viaduk. Semua laku ini pandanglah sebagai lambang bahwa Membara memang pantas disaksikan. Membara telah membuktikan dirinya yang dirindu pagelarannya. Bukti puluhan ribu orang menyaksi memenuhi panggilannya adalah bongkahan yang tidak terelakkan.

Mengenai korban pastilah akan ada langkah-langkah penataan. Ini urusan kita semua, pemerintah kota dan pemerintah siapapun yang peduli tentang rakyatnya. Menyantuni dan berkata santun sebagai tanda empati sekaligus turut berduka adalah pilihan ungkapan terbaik. Soal besaran santunan dan anggaran yang tidak tersedia janganlah dibeber dalam jumpa media yang kemudian akan menyesakkan. Kejadian ini menaburkan benih pembelajaran terbaik bahwa pelakonan Membara memang urusan nasional di . Niscaya untuk tahun depan, pementasan ini harus dengan sengkuyung seluruh elemen kota. Seniman telah mendharmabaktikan diri melalui kreasi seni atas Semangat Pahlawan yang tersemat di dadanya.

*Dr H Suparto Wijoyo: Esais, Pengajar Hukum Lingkungan Fakultas Hukum, Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum Universitas Airlangga serta Ketua Pusat Kajian Mitra Otonomi Daerah Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Angkot Terbakar di Jalan Panjang Jiwo, Sopir Luka Ringan':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO