Prosesi pelepasan tukik di Pantai Pancer Door.
Sementara itu seiring dengan perkembangan Pancer Door yang semakin ramai, kawasan tempat bertelur penyu tersebut sangat berisiko dan tidak steril karena area pesisir pantai yang idealnya tidak boleh dilewati kendaraan bermotor saat ini justru dipakai sebagai trek off-road dan motor trail.
"Orang- orang itu gak bisa lihat kalau di sini ada penyu bertelur. Ini kan binatang langka, malah dirusak dilindas ban-ban mobil dan motor trail. Apalagi terdengar kabar komunitas mobil motor itu mengajukan permintaan untuk bikin mini sirkuit untuk off-road di Pancer. Kalau dinas terkait mengabulkan permintaan mereka dengan dalih meningkatkan pengunjung dan pendapatan sangatlah konyol," kata Slamet, pemerhati lingkungan secara terpisah.
Dinas Perikanan setempat mencoba menangapi terkait adanya penyu yang kembali mendarat di Pancer dengan mencoba menggandeng beberapa komunitas dan badan usaha mulai dari Pacitan surfing club, world clean up day, mitra putra sigaret Pacitan (PPIS), SCVE, dan beberapa organisasi pemuda untuk memulai satu gerakan selamatkan penyu dan bersihkan pantai.
"Tidak akan bisa berjalan dengan baik jika proses pelestarian kembali penyu di Pancer tidak didukung oleh banyak pihak. Jadi kita harus bersatu bersama agar harapannya kawasan Pancer menjadi kawasan konservasi, saat ini hanya sebatas kawasan perlindungan," ungkap Bambang Mahendrawan, Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan.
Usaha dalam rangka menuju kawasan perlindungan penyu ini, dinas terkait, badan usaha, dan masyarakat pada Minggu (15/7) melakukan ceremony pelepasan tukik ke laut dan juga penancapan papan pemberitahuan sebagai bentuk edukasi masyarakat akan pentingya menjaga kebersihan dan habitat laut yang hampir punah seperti penyu. (yun/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




