Jumat, 20 Juli 2018 21:41

Mengarak Pengantin Kopi di Keboen Kopi Karanganjar

Sabtu, 07 Juli 2018 16:39 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Akina Nur Alana
Mengarak Pengantin Kopi di Keboen Kopi Karanganjar

BLITAR, BANGSAONLINE.com - Di tengah gerusan budaya modern, tradisi unik pengantin kopi masih dilestarikan di Blitar. Tepatnya di Keboen Kopi Karanganjar atau De Karanganjar Koffieplantage, Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Arak-arakan pengantin kopi ini merupakan ritual tahunan yang digelar pemilik Keboen Kopi Karanganjar, untuk menandai dimulainya musim panen kopi.

Ritual ini dimulai dengan memetik kopi di salah satu lokasi perkebunan kopi seluas 250 hektare tersebut yang dianggap paling subur. Untuk memetik kopi, sejumlah sesepuh hadir untuk memimpin ritual. Para sesepuh inilah yang akan memilih mana kopi lanang (laki-laki) dan mana kopi wadon (perempuan) yang akan dijadikan pengantin. Setelah itu kopi lanang dan kopi wadon dibungkus menggunakan kain putih lalu diarak mengelilingi sebagian kebun kopi diiringi alunan gamelan.

Setelah diarak, kopi lanang dan kopi wadon diserahkan kepada pengelola pabrik kopi di yang sudah menunggu di pendopo yang juga dijadikan pelaminan pengantin kopi sebagai pertanda siap diolah. Penyerahan pengantin kopi ini diikuti dengan kenduri sebagai tanda syukur kepada sang pencipta.

"Ini adalah tradisi turun temurun yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan akan tetap kami lestarikan sebagai salah satu warisan budaya asli Kabupaten Blitar," jelas pengelola Keboen Kopi Karanganjar, Wima Brahmantya, Sabtu (7/7/2018).

Suwito (66) salah satu sesepuh setempat yang ikut mengarak pengantin kopi mengatakan, tujuan ritual pengantin kopi adalah sebagai ucapan rasa syukur kepada sang pencipta. Agar hasil panen tahun-tahun berikutnya lebih baik dan lebih banyak.

Menurut Suwito, tradisi pengantin kopi sudah diadakan sejak jaman kolonial. Bahkan pada masa keemasan komoditas kopi sekitar tahun 1950 hingga 1960 ritual pengantin kopi digelar dengan sangat meriah. "Tradisi mengawinkan ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Bahkan dulu digelar sangat meriah," tutur Suwito.

Tradisi ritual pengantin kopi ini dibuka untuk umum. Wisatawan yang menghabiskan liburan ke Keboen Kopi Karanganjar boleh ikut dan melihat langsung tradisi ini. (ina/ns)

Oleh: Suparto Wijoyo*
Rabu, 18 Juli 2018 16:49 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo* KABAR pating semliwer memenuhi angkasa dan terhelat dalam belantara bumi nusantara. Para petinggi dan penglamun kekuasaan sedang merancang skenario untuk dapat bertahan, tidak hendak beringsut, tak rela bergeser, apalagi l...
Selasa, 03 Juli 2018 04:36 WIB
Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Fa-idzaa jaa-a wa’du uulaahumaa ba’atsnaa ‘alaykum ‘ibaadan lanaa ulii ba'sin syadiidin fajaasuu khilaala alddiyaari wakaana wa’dan maf’uulaan (5).Teks ayat kaji ini jelas sekali, beta...
Jumat, 20 Juli 2018 09:30 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Senin, 16 Juli 2018 20:00 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Obyek wisata Pantai Kelapa yang berada di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban terus berbenah. Beberapa fasilitas penunjang di kawasan obyek wisata pantai tersebut dirombak dan ditambah guna meningkatkan day...