Minggu, 18 November 2018 18:18

Mengarak Pengantin Kopi di Keboen Kopi Karanganjar

Sabtu, 07 Juli 2018 16:39 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Akina Nur Alana
Mengarak Pengantin Kopi di Keboen Kopi Karanganjar

BLITAR, BANGSAONLINE.com - Di tengah gerusan budaya modern, tradisi unik pengantin kopi masih dilestarikan di Blitar. Tepatnya di Keboen Kopi Karanganjar atau De Karanganjar Koffieplantage, Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Arak-arakan pengantin kopi ini merupakan ritual tahunan yang digelar pemilik Keboen Kopi Karanganjar, untuk menandai dimulainya musim panen kopi.

Ritual ini dimulai dengan memetik kopi di salah satu lokasi perkebunan kopi seluas 250 hektare tersebut yang dianggap paling subur. Untuk memetik kopi, sejumlah sesepuh hadir untuk memimpin ritual. Para sesepuh inilah yang akan memilih mana kopi lanang (laki-laki) dan mana kopi wadon (perempuan) yang akan dijadikan pengantin. Setelah itu kopi lanang dan kopi wadon dibungkus menggunakan kain putih lalu diarak mengelilingi sebagian kebun kopi diiringi alunan gamelan.

Setelah diarak, kopi lanang dan kopi wadon diserahkan kepada pengelola pabrik kopi di yang sudah menunggu di pendopo yang juga dijadikan pelaminan pengantin kopi sebagai pertanda siap diolah. Penyerahan pengantin kopi ini diikuti dengan kenduri sebagai tanda syukur kepada sang pencipta.

"Ini adalah tradisi turun temurun yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan akan tetap kami lestarikan sebagai salah satu warisan budaya asli Kabupaten Blitar," jelas pengelola Keboen Kopi Karanganjar, Wima Brahmantya, Sabtu (7/7/2018).

Suwito (66) salah satu sesepuh setempat yang ikut mengarak pengantin kopi mengatakan, tujuan ritual pengantin kopi adalah sebagai ucapan rasa syukur kepada sang pencipta. Agar hasil panen tahun-tahun berikutnya lebih baik dan lebih banyak.

Menurut Suwito, tradisi pengantin kopi sudah diadakan sejak jaman kolonial. Bahkan pada masa keemasan komoditas kopi sekitar tahun 1950 hingga 1960 ritual pengantin kopi digelar dengan sangat meriah. "Tradisi mengawinkan ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Bahkan dulu digelar sangat meriah," tutur Suwito.

Tradisi ritual pengantin kopi ini dibuka untuk umum. Wisatawan yang menghabiskan liburan ke Keboen Kopi Karanganjar boleh ikut dan melihat langsung tradisi ini. (ina/ns)

Rabu, 14 November 2018 00:10 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SUASANA khusuk menyelimuti Jumat malam 9 November 2018 di lorong-lorong kampung, di ruas-ruas musholla, di beranda-beranda langgar, di ruang-ruang masjid, surau ataupun gardu desa. Rakyat membaca doa dengan selingan renungan tent...
Minggu, 18 November 2018 03:20 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Wayad’u al-insaanu bialsysyarri du’aa-ahu bialkhayri wakaana al-insaanu ‘ajuulaan (11).Ayat studi ini mengingatkan, betapa watak dasar manusia itu tak sabaran, maunya segera terwujud ap...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Selasa, 06 November 2018 22:28 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Dua tahun terakhir Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pertama anugerah wisata buatan terbaik provinsi diraih Taman Wisata Madiun Umbul Square tahun 2017, menyusul kemudian ...