Suasana debat publik III pemilihan gubernur-wakil gubernur Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (23/6/2018). Foto: bangsaonline.com
Menurut Surochim, penampilan Emil dalam debat pamungkas itu menunjukkan progres sangat signifikan. “Progres yang sangat signifikan terlihat pada Mas Emil. Selain terlihat taktis cerdas dan menguasai teknis, Mas Emil juga nampak wisdom (bijak-red) dan humble (rendah hati-red). Kalau Mbak Puti masih terlihat sama dengan penampilan sebelumnya. Masih normatif dan makro,” kata Surochim.
Surochim menegaskan bahwa pasangan Khofifah-Emil diuntungkan oleh kapasitas, kompetensi, dan daya saing serta impresi dari Emil yang bisa mewakili pikiran ideal pemilih milenial zaman now. “Sehingga paslon nomor 1 terlihat unggul,” kata pria asal Lamongan ini.
Menurut dia, pada closing statement paslon 1 tetap menunjukkan optimisme dan keyakinan. ”Sementara paslon 2 berusaha menunjukkan respek kepada lawan. Hanya tambahan terkait transfer device Mbak Puti berusaha mengeksplorasi Bung Karno. Saya pikir tidak efektif kendati saya memahami itu dilakukan untuk tujuan menguatkan dukungan kaum nasionalis,” katanya.
Jika elektabilitas pasangan Khofifah-Emil naik 4% lagi berarti selisih kemenangan atas pasangan Gus Ipul-Putri mulai signifikan. Sebelumnya SSC mengumumkan hasil surveinya. Lembaga survey yang dipimpin Mochtar W Utomo itu menyebut bahwa Khofifah-Emil menang 5,1% atas Gus Ipul-Puti. Sedang hasil survei Poltracking lebih tinggi lagi. Lembaga survei yang dipimpin pengamat politik Hanta Yudha itu menyebut pasangan Khofifah-Emil menang 8,3% atas Gus Ipul-Puti.
Hasil survei lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga mengumumumkan kemenangan pasangan Khofifah-Emil. Menurut lembaga survei yang dipimpin Saiiful Mujani ini, Khofifah-Emil mendapat dukungan 48,5% sedang Gus Ipul-Puti 40,8%.
Surochim juga menilai secara umum materi dari para panelis cukup berbobot, tetapi ilustrasinya terlalu panjang. Surochim juga mengapresiasi KPU Jatim yang telah menampilkan inovasi baru dalam debat publik III ini. “Saya mengapresiasi munculnya pertanyaan dari publik dan sesi bahasa lokal (Jawa-red). Itu saya anggap sebagai inovasi baru dari KPU Jatim,” pungkasnya. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




