Tafsir Al-Isra 2-3: Al-Ladzi Barakna dan Al-Ladzi Baraka

Tafsir Al-Isra 2-3: Al-Ladzi Barakna dan Al-Ladzi Baraka Ilustrasi

Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   

Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).

Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraan (3).

Kaji kita sesungguhnya sudah sampai ayat ketiga. Tapi diundurkan sebentar untuk mengantar hikmah yang terkandung dalam gaya iltifat pada ayat kaji. Ayat pertama al-Isra' menampilkan model iltifat, peralihan statement terkait subyek di balik peristiwa al-Isra'. Ketika mengungkapkan perjalan al-Isra' yang luar biasa, Tuhan menyamarkan Diri, pakai bentuk orang ketiga, ghaib, "al-Ladzi asra ", Dia, Dzat yang memperjalankan.

Tetapi ketika mengungkap keberkahan yang melimpah di seputar al-masjid dipakailah subyek dengan bentuk orang pertama, al-Mutakallim (Kami). "barakNA". Peralihan terma Ghaib (Dia) ke Mutakallim (Kami) ini, atau lainnya disebut gaya "iltifat". Padahal, antara al-ladzi asra dan al-ladzi barakNA satu pelaku, yakni Allah SWT. Kalau pola serasi, maka kalimatnya "al-ladzi baraka", menyesuaikan dengan "al-ladzi asra" sebelumnya. Kira-kira begini:

Pertama, peristiwa al-isra' sangat terkait dengan keimanan, hal mana, sifat alamiah iman adalah ghaib. Untuk itu, Tuhan menyesuaikan (ghaib) dan tidak menampakkan Diri (mutakallim) sebagai Maha Dalang di balik itu. Tuhan sengaja melakukan demikian untuk melihat tanggapan masyarakat secara alamiah. Respon tersebut sangat dibutuhkan untuk bahan analisis terkait keimanan publik, yang selanjutnya dijadikan dasar langkah dakwah ke depan.

Sumber: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag

Simak berita selengkapnya ...