Ki Ageng Lintang Panjerino, salah seorang saksi sejarah Pacitan. foto: ist
Dengan tujuan memperluas kekuasaan dan syiar Islam, Raja Demak mengirimkan santri-santri sekaligus mantri tamtama pilihan menuju Wengker. Salah satu yang terbaik adalah Raden Katong lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan (Purwowijoyo. Babad Ponorogo Jilid I. Ponorogo: CV. Nirbita, 1978: 22).
"Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Batara Katong, tentu bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak yang tidak berkenan dengan kedatangan Batara Kathong di Bumi Wengker, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.
Para punggawa dan anak cucu Batara Katong inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam. Beliau kemudian dikenal sebagai Adipati Sri Batara Katong (gelar yang diberikan oleh Sunan Kalijaga) yang membawa kejayaan bagi Ponorogo pada saat itu.
Hal ini ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batara Katong di mana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung (Garuda) dan gajah yang melambangkan angka 1418 saka atau tahun 1496 M (Purwowijoyo. Babad Ponorogo Jilid I, 49-50)," sambungnya.
Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti "Penobatan" yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut dapat ditemukan hari wisuda Batara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar, Tahun 1418 saka bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H (Prasasti Batu di Komplek Makam Batara Katong).
Pada masa Demak daerah Wengker Kidul sudah banyak dijelajahi oleh para mubaligh. Beberapa diantaranya, Ki Ageng Jaiman (sekitar Arjosari). Seorang murid Sunan Kalijaga jang pandai membuat terbang/rebana dan bedug. Memiliki peninggalan pusaka “tatah panjang” yang masih tersimpan di Desa Gembuk (rumah Bapak Imam).
Ki Ageng Klomoh di Desa Gembuk. Adalah utusan Raden Patah untuk bahan tali ijuk di sekitar Gunung Limo untuk pembangunan masjid Demak di tahun 1477 M. Syeh Maulana Maghribi seorang ulama dari tanah Maghrib (Maroko) untuk mengajar agama Islam, menetap di Dusun Duduhan (Desa Mentoro) bersamaan babat alas Wengker tahun 1486 M.
Sunan Siti Geseng/R. Jaka Deleg/Ki Ageng Petung bersamaan babat alas Wengker tahun 1486 M. Ki Ageng Posong/Ki Ageng Ampok Boyo setelah penobatan Adipati Betara Katong tahun 1496 M.
Ki Ageng Menak Sopal, R. Juwono/Mantri Tamtama/Seorang Soreng Pati/Eyang Tunggul Wulung di Lereng Gunung Limo dan Kyai Brayut/Sunan Bayat/Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat.
Syeh Maulana Maghribi memiliki peran terhadap sejarah babad di Pacitan sebagai mubaligh Islam pertama kali yang dikirim oleh Raden Patah (Kadipaten Demak Bintoro) ke tanah Wengker Kidul untuk menidik ilmu tauhid.
Kedatangan beliau dikawal oleh Ki Ageng Petung (R. Jaka Deleg /Kyai Geseng). Dalam versi lain Kyai Geseng memiliki sebutan Sunan Siti Geseng murid Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid). "Hal ini diperkuat dengan adanya jubah Sunan Siti Geseng yang masih disimpan di Masjid Nurul Huda Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan lengkap dengan seperangkat alat pertukangan yang digunakan membangun masjid.
Benda sejarah yang tersimpan di dalam kotak masih ada sampai sekarang dan diletakkan di atas cungkup masjid. Kedatangan Sunan Siti Geseng di Wengker Kidul ditandai dengan penanaman bambu petung, yang kemudian bergelar Ki Ageng Petung (sisa-sisa peninggalan berupa pusaka dan alat-alat pertukangan masih tersimpan di Desa Kembang dan Sirnoboyo Kecamatan Pacitan)," tandasnya. (yun/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




