Senin, 22 April 2019 07:57

Nasdem Tuding Orang Dekat Jokowi Punya Kepentingan Bisnis dan Jabatan

Senin, 25 Agustus 2014 16:24 WIB
Nasdem Tuding Orang Dekat Jokowi Punya Kepentingan Bisnis dan Jabatan
Despen Ompusunggu berbicara dalam acara Nasdem. Foto: www.partainasdem.org

JAKARTA(BangsaOnline)Partai koalisi di jajaran Jokowi-JK mulai gerah. Mereka mulai berteriak ke publik tentang ulah orang-orang di sekitar Jokowi. Politisi Partai Nasdem, Despen Ompusunggu, dalam pernyataan tertulis, Senin (25/8/2014) mengingatkan agar presiden terpilih Joko Widodo  punya mekanisme pengawasan dan pola penindakan tegas terhadap seluruh Tim Transisi pimpinan Rini Soemarno, guna mencegah praktik percaloan atau broker proyek.

Menurut dia, sejumlah personil di Kantor Transisi Jokowi-JK tidak terlepas dari kepentingan bisnis dan motif mengejar jabatan atau menempatkan orang.

"Sejak awal, saya sudah mengkritisi keberadaan Rini Soewandi yang memimpin Kantor Transisi Jokowi, yang tidak terlepas dari dugaan kepentingan yang bisa jadi terkait motif bisnis atau jabatan," ujar Despen Ompusunggu. Rini dikenal sebagai orang dekat Megawati Soekarnoputeri dan Jokowi.

Belakangan, lanjutnya, orang-orang tertentu yang kemudian dilibatkan di Pokja (kelompok kerja) juga tidak steril dari kepentingan-kepentingan proyek.

Menurut pengurus DPP Partai Nasdem ini, ketatnya pertarungan untuk mendapatkan posisi strategis di Pemerintahan Jokowi-JK telah melahirkan mentalitas calo dan kreativitas para broker politik dengan pola transaksional sebagai imbalan jabatan tertentu.

"Yang dimanfaatkan adalah keberadaan Kantor Transisi, serta jualan akses kedekatan kepada Jokowi dan JK," tegasnya.

Dia juga yakin, praktik percaloan jabatan dan proyek melalui program yang disusun di Kantor Transisi sangat mungkin berlangsung canggih karena memboncengi program-program pilihan yang nantinya dieksekusi pemerintah, atau melalui skema pelibatan dengan swasta.

Perekrutan terhadap orang-orang yang dilibatkan dalam Kantor Transisi berjalan tidak transparan, berbau unsur KKN (korupsi kolusi nepotisme), bahkan subjektif.

Karena ketatnya pertarungan untuk mendapatkan posisi strategis di Pemerintahan Jokowi-JK, perekrutan macam begitu melahirkan mentalitas calo dan kreativitas para broker politik dengan pola transaksional sebagai imbalan jabatan tertentu.

"Saya khawatir, kebaikan Jokowi mulai dimanfaatkan atau disalahgunakan untuk kepentingan sempit, kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok," ungkapnya.

Ditegaskan Despen, Kantor Transisi Jokowi yang kini sedang mempersiapkan aneka program dan usulan nama-nama yang dianggap mumpuni mengisi jabatan menteri di Kabinet Jokowi-JK, harus konsisten bekerja secara trasparan dengan penuh integritas, sesuai visi-misi Jokowi-JK. Sekaligus, mampu mengelola berbagai kepentingan, khususnya dari para pihak yang selama ini menjadi pendukung kemenangan Jokowi-JK.

"Revolusi mental harus dimulai dari sekitar Jokowi-JK. Jangan misalnya kita menggelorakan koalisi tanpa syarat, tetapi banyak syarat tersembunyi. Atau jangan kita koar-koar membantu secara sukarela, tapi permintaan macam-macam yang kemudian justru membebani dan menyulitkan posisi Jokowi," tegas Despen.

Ia mensinyalir bahwa perekrutan terhadap orang-orang yang dilibatkan dalam Kantor Transisi berjalan tidak transparan, berbau unsur KKN (korupsi kolusi nepotisme), bahkan subjektif.

Karena ketatnya pertarungan untuk mendapatkan posisi strategis di Pemerintahan Jokowi-JK, perekrutan macam begitu melahirkan mentalitas calo dan kreativitas para broker politik dengan pola transaksional sebagai imbalan jabatan tertentu.

"Saya khawatir, kebaikan Jokowi mulai dimanfaatkan atau disalahgunakan untuk kepentingan sempit, kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok," ungkapnya.

Ditegaskan Despen, Kantor Transisi Jokowi yang kini sedang mempersiapkan aneka program dan usulan nama-nama yang dianggap mumpuni mengisi jabatan menteri di Kabinet Jokowi-JK, harus konsisten bekerja secara trasparan dengan penuh integritas, sesuai visi-misi Jokowi-JK. Sekaligus, mampu mengelola berbagai kepentingan, khususnya dari para pihak yang selama ini menjadi pendukung kemenangan Jokowi-JK.

"Revolusi mental harus dimulai dari sekitar Jokowi-JK. Jangan misalnya kita menggelorakan koalisi tanpa syarat, tetapi banyak syarat tersembunyi. Atau jangan kita koar-koar membantu secara sukarela, tapi permintaan macam-macam yang kemudian justru membebani dan menyulitkan posisi Jokowi," tegas Despen.

Polda Jatim Gerebek Pabrik Makanan Ringan Berbahan Tawas dan Bumbu Kadaluarsa di Sidoarjo
Jumat, 15 Maret 2019 05:14 WIB
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Tim Satgas Pangan Polda Jatim menggerebek pabrik produksi makanan ringan (snack) di Dusun Dodokan, Desa Tanjungsari, Taman, Sidoarjo, Kamis (14/3). Dalam penggerebekan ditemukan bahan baku berbahaya dan kadaluarsa y...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Yogi Indra Pratama
Jumat, 19 April 2019 21:53 WIB
Oleh: Yogi Indra Pratama, ST.,MT.*Istilah golput atau golongan putih pertama kali muncul pada tahun 1971. Pada masa itu, golput merupakan suatu bentuk gerakan protes yang dikumandangkan oleh pemuda dan mahasiswa dengan datang ke TPS untuk mencob...
Senin, 22 April 2019 00:24 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag36. Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilmun inna alssam’a waalbashara waalfu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaanDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Se...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Jumat, 01 Februari 2019 11:02 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...