Mensos Khofifah Indar Parawansa di atas KM Cimbria sebelum melepas bantuan beras untuk rakyat Rohingya.
Terkait perizinan, Khofifah mengatakan bahwa ACT sendiri telah mengantongi sejumlah izin dari pemerintah. Tidak hanya Kementerian Sosial, namun juga Kementerian Hukum dan HAM serta dalam hal pengiriman bantuan beras sudah mendapat izin dari Kementerian Pertanian.
"Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringankan beban pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh dan perbatasan Myanmar," tandas perempuan asli Surabaya ini.
Secara pribadi, Khofifah mengatakan dirinya merasa sangat prihatin dengan eksodus Rohingya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, kekerasan terhadap Rohingya merupakan pelanggaran HAM sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus turun tangan menyelesaikan permasalahan ini. Terutama untuk membuka isolasi yang dilakukan Myanmar sehingga bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Rakhine State.
Sementara itu, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin mengatakan 2 juta kilogram beras tersebut berhasil dikumpulkan dalam waktu 5 hari. Menurutnya, Ia sempat tidak percaya dengan besarnya antusiasme masyarakat Indonesia saat donasi dibuka.
"Alhamdulillah, Insya Allah bantuan ini akan sangat bermanfaat bagi Rohingya," tuturnya.
Dikatakan, setelah sampai di Bangladesh bantuan tersebut harus menempuh jalan ratusan kilometer lagi untuk sampai ke titik pengungsian. Bantuan ini, kata Ahyudin, adalah bantuan kedua yang disalurkan ACT kepada etnis Rohingya. Belum lama ini ACT menyalurkan berupa beras, tepung, minyak, garam, bawang, cabai, dan air mineral disalurkan lewat perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar.
"Myanmar masih belum membuka blokade akses bantuan kemanusiaan, jadi saat ini dilaksanakan di perbatasan Bangladesh," pungkasnya. (mdr)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




