Senin, 18 November 2019 02:48

Tolak Gula Impor dan Pajak 10 Persen, 400 Sopir Truk Tebu di Kediri Mogok

Kamis, 24 Agustus 2017 22:43 WIB
Wartawan: Arif Kurniawan
Tolak Gula Impor dan Pajak 10 Persen, 400 Sopir Truk Tebu di Kediri Mogok
Deretan truk muatan tebu terparkir di Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri dan tidak dibawa ke Pabrik Gula Pesantren Baru.

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Sedikitnya sekitar 400 sopir truk bermuatan tebu pabrik gula di Kediri menggelar aksi mogok beroperasi. Mereka menuntut penghapusan pajak gula 10 persen dan moratorium gula impor.

Aksi mogok beroperasi ini berlangsung di sepanjang jalan raya Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri ke arah selatan, hingga perempatan Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota Kediri ke arah Surabaya.

Aksi itu dimulai, pukul 09.00 WIB. Para sopir truk yang sedianya memasok tebu ke pabrik gula berhenti di tepi jalan. Di antaranya ke arah PG Pesantren Baru di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri dan PG Mrican di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Para sopir juga memasang banner bertuliskan tuntutan mereka. Seperti, menolak pajak gula 10 persen, perlindungan petani tebu, dan menolak impor gula.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kediri Suprayitno mengatakan, aksi mogok beroperasi para sopir truk ini merupakan awal dari tahapan aksi secara nasional ke Istana Negara. Para petani tebu mengeluhkan pemberlakuan pajak gula 10 persen yang berimbas pada penerunan pendapatan mereka. Terlebih, kebijakan tersebut masih diperparah dengan banyaknya gula impor yang menyebabkan gula lokal tidak laku jual.

“Penerapan pajak gula 10 persen berdampak luas bagi industri gula hingga ke tingkat petani. Sopir truk pemuat tebu pun terkena imbasnya. Sebab, pendapatan para petani menurun,” ungkap Suprayitno.

Anwar, petani tebu yang juga anggota APTR Kediri menuntut agar aksi mogok ini segera mendapatkan respon dari pemerintah. Sebab, bila aksi terus berlangsung, bisa mengganggu kegiatan produksi gula di pabrik. Seperti hari ini saja, pasokan tebu ke PG Mrican yang biasanya 500-600 truk per hari, sempat tersendat hingga 100 truk dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Untuk diketahui, jumlah petani yang biasanya memasok tebu ke PG Mrican kurang lebih 200 orang. Sedangkan PG Pesantren Baru sebanyak 400 orang petani. (rif)

Badai Kembali Terjang Ngawi, Panggung dan Tenda untuk Lomba Panahan di Alun-alun Porak Poranda
Sabtu, 09 November 2019 00:05 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Hujan disertai angin kencang kembali memporak-porandakan Kabupaten Ngawi, Jumat (8/11) sore. Kali ini badai angin menerjang wilayah alun-alun dan sekitarnya, yang kebetulan sedang digelar lomba panahan....
Jumat, 15 November 2019 23:45 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Wisata Budaya Taneyan Lanjhang yang terletak di Dusun Buddagan I Desa Larangan Luar Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan semakin diminati wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Taneyan Lanjhang merupakan rum...
Rabu, 06 November 2019 12:44 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan*Para elit NU struktural tak bisa menyembunyikan kekecewaannya ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019 lalu. Kekecewaan itu dieskpresikan secara terbuka oleh Wakil Ketua PB...
Minggu, 17 November 2019 01:29 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*71. Yawma nad’uu kulla unaasin bi-imaamihim faman uutiya kitaabahu biyamiinihi faulaa-ika yaqrauuna kitaabahum walaa yuzhlamuuna fatiilaan.(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpi...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...