Selasa, 15 Juni 2021 19:35

Tafsir An-Nahl 103: Soal Mahaguru, antara Nabi dan Taat Pribadi

Rabu, 01 Februari 2017 14:42 WIB
Tafsir An-Nahl 103: Soal Mahaguru, antara Nabi dan Taat Pribadi
ilustrasi

Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie MAg. . .   

BANGSAONLINE.com - Walaqad na’lamu annahum yaquuluuna innamaa yu’allimuhu basyarun lisaanu alladzii yulhiduuna ilayhi a’jamiyyun wahaadzaa lisaanun ‘arabiyyun mubiinun.

Ayat studi sebelumnya bertutur soal ayat al-Qur'an yang turun bervariasi, sehingga orang-orang kafir menuduh diri Rasulullah SAW mencla-mencle, tidak konsisten dan berubah-ubah seenaknya. Persepsi buruk itu hingga mengarah kepada tuduhan, bahwa Nabi pembohong dan suka menipu, sehingga apa yang diterima dari Tuhan dianggap akal bulus dan karangan sendiri. Lalu al-qur'an turun menjawab, bahwa itu semua dari Tuhan melalui Ruh al-Qudus, malaikat Jibril A.S. (102).

Gagal dari upaya pertama, mereka kini membuat tuduhan baru, bahwa apa yang diterima nabi Muhammad SAW itu bukanlah dari Tuhan, melainkan hasil belajar dari orang lain secara rahasia. "Innamaa yu'allimuhu basyar". Kata "basyar" artinya orang, mansuia. Tafsiran soal siapa mereka, ada beberapa orang yang dicurigai sebagai mahaguru nabi yang ternyata kebanyakan dari para budak nasrani. Di lingkungannya, mereka ada yang dikenal sebagai mengerti isi kitab al-Taurah atau al-Injil.

BACA JUGA : 

Tafsir Al-Kahfi 65: Khidir A.S., Nabinya Komunitas Green Peace

Tafsir Al-Kahfi 61-64: Guru Mendatangi Murid atau Murid Mendatangi Guru

Tafsir Al-Kahfi 61-64: Andai Android Zaman Musa A.S.

Tafsir Al-Kahfi 60: Kecongkakan Nabi Musa A.S.

Mereka adalah Jabr, budak nasrani milik al-Fakih ibn al-Mughirah. Nama ini paling nominatif menurut mufassirin. Berikutanya adalah Ya'isy, budak dari Bani al-Hadramy, Yasar, Nabt (Abu Fukaihah), Bal'am, Abis, milik Huwaithib ibn Abd al-'Uzza. Mereka inilah yang dipromosikan sebagai mahaguru Nabi, sehingga apa yang diterima Nabi dari Allah itu bukanlah wahyu, melainkan bisikan dari para budak nasrani tersebut.

Al-Qurthuby mengomentari, bahwa semua nama tersebut sangat mungkin benar, dalam artian pernah ketemu nabi dan Nabi pernah pula mendengar dari mereka saat memabca kitab al-Taurah atau al-Injil. Sebatas mendengar seperti saat ketepatan lewat, atau mereka pernah mendiskusikan materi kitab suci bersama Nabi. Tapi, jika dikatakan wahyu al-Qur'an sebagai hasil belajar Nabi dari mereka, tentu hal tersebut mutlak tidak benar. Alasannya antara lain:

Pertama, Ternyata budak tersebut adalah bukan asli wong arab, melainkan non-arab, sedangkan nabi Muhamad SAW adalah orang arab asli. Itulah, maka janggal, bagaimana transformasi ilmu bisa terjadi secara optimal, mengingat kendala bahasa begitu fatal. Teks kitab al-Taurah dan al-Injil adalah menggunakan bahasa non-arab, semisal Suryani atau Ibrani. Maka Tuhan menangkis tuduhan itu dengan firman-Nya: "Lisaanu alladzii yulhiduuna ilayhi a’jamiyyun wahaadzaa lisaanun ‘arabiyyun mubiinun".

Kedua, bagaimana mungkin para budak yang tidak bisa bahasa arab itu bisa mengajari Nabi al-qur'an yang kelas sastranya jauh melampaui kualitas sastra para penyair arab papan atas. Mereka, para pujangga, baik dari kalangan Jin dan manusia saja tidak ada yang bisa membuat karya tandingan, kok budak non-arab yang tidak bisa bahasa arab bisa menjadi guru besar Nabi?

Ketiga, merasa galau, budak miliknya dianggap sebagai mahaguru nabi Muhammad SAW, al-Fakih ibn al-Mughirah, majikan Jabr pernah mengecek langsung: "Hai Jabr, benarkah kamu mengajari Muhammad soal al-Qur'an?". Jabr menjawab: "Tidak, itu tidak benar". Ibn al-Mughirah: "Tapi kamu sering berdiskusi dengan Muhammad, kan ?". Jabr: "Ya, itu benar. Bukan aku mengajari dia, justru malah Muhammad yang mengajari aku, yang membimbing aku ke jalan yang benar".

Diriwayatkan, selanjutnya para budak itu justru masuk islam, setelah mengerti ayat-ayat al-qur'an. Kitab al-Injil yang biasa mereka baca dari para pendeta, mereka tinggalkan.

Kebalikan dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi sang penipu ulung. Taat punya tim untuk membikin beberapa mahaguru abal-abal yang diambil dari pengemis, pemulung, gelandangan tua-tua. Didandani bak syekh sufi, sekedar nampang doang di panggung kehormatan saat aksi wiridan dusta berlangsung. Mahaguru yang dipanggil dengan sebutan ‘Abah’ itu tinggal komat-kamit, memutar tasbih sambil merunduk memejamkan mata.

Era Nabi berbeda. Justru orang-orang kafir yang mempromosikan para budak nasrani diangkat menjadi mahaguru dari nabi Muhammad SAW. Trick mahaguru abal-abal ini gagal total, setelah Tuhan menjawab, yang kemudian disusul oleh pengakuan pribadi para budak yang bersangkutan. Akhirnya, justru mereka masuk islam.

Ini bagus sebagai nasehat bagi para da'i atau ustadz muda agar berprilaku alami saja, sewajarnya saja dalam berpenampilan. Umat ini pandai menilai, mana ustadz yang "kebelet" pamor, sehingga eforia dalam dandanan. Ya, memang halal dan tidak ada larangan, tapi yang alamiah biasanya yang langgeng dan yang eforia biasanya mudah pudar.

Demam Euro 2021, Warga Desa di Pasuruan Ini Kibarkan Ratusan Bendera Ukuran Raksasa
Senin, 14 Juni 2021 23:58 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Euforia sepak bola Piala Eropa atau Euro tahun 2021 menggema di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di tanah air. Warga pesisir di Kabupaten Pasuruan misalnya, mereka ikut memeriahkan perhelatan Euro 2021 dengan mema...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Selasa, 15 Juni 2021 06:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-RUU Pajak makin ramai dan kontroversial. Tapi suara fraksi-fraksi di DPR kali ini menolak. Alias tak mendukung rencana pemerintah.Apa benar ini karena Pilpres sudah dekat? Atau karena para pimpinan parpol belum dipanggil pr...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...