Anggota Komisi VII DPR RI, Eni Maulani S, saat silaturahim dengan media di Gresik. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE
"Kita akan mencari kebenarannya," imbuhnya.
Menurut ia, pembangunan smelter sangat dinantikan masyarakat Gresik. Sebab, smelter tersebut diaharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Gresik. Khususnya, dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Sebab, keberadaan Smelter nanti membutuhkan sedikitnya 30.000 pekerja.
"Saya paling getol menyuarakan masalah smelter ini. Tapi di tahun terakhir progresnya kok tidak ada," jelasnya
Sebelumnya, Direktur Public Affair PT Freeport Indonesia (FI), Clementino Lamury di hadapan rombongan Panja Freeport dan Komisi VII DPR RI mengakui hingga sekarang pihaknya belum menentukan lokasi lahan Smelter. Sebab, kondisi tersebut terkait dengan beberapa hal. Di antaranya, masalah biaya yang sangat besar.
Menurutnya, biaya pembelian lahan PT. Freeport Indonesia membutuhkan dana sebesar 150 juta USD. Sedangkan, untuk pembangunan pabriknya membutuhkan dana sebesar Rp 2,2 miliar USD.
"Kami masih mencari dana itu," katanya saat menemui kunjungan Komisi VII DPR RI di PT. Petrokimia Gresik baru-baru ini.
Dia menyatakan, pihaknya tengah mencari investor untuk mendanai pembangunan Smelter tersebut. "Kami tengah konsen untuk meneruskan kontrak Freeport di Papua," terangnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




