Dari sektor olahraga, Dwija menyatakan,sepanjang 2016 Pemkot telah membangun 48 sarana dan prasarana (sarpras) olahraga. Sarpras olahraga yang dimaksud meliputi lapangan basket, voli, futsal, bulu tangkis, sepak bola, tenis, jogging track, dragrace dan hockey. Sebagian besar lapangan olahraga tersebut dibangun di kawasan permukiman agar bisa lebih dekat dengan warga. Terbaru, Wali Kota Surabaya baru saja meresmikan lapangan futsal di eks-lokalisasi Dolly pada 19 Desember lalu.
Dwija mengungkapkan, selanjutnya ada 67 lokasi lahan milik Pemkot yang siap dibangun sarpras olahraga pada 2017 nanti.
Sementara itu, pakar tata kota Johan Silas menilai bahwa Surabaya sudah ‘naik kelas’. Penilaian tersebut didasarkan pada progres pembangunan yang sudah terealisasi di Surabaya. Di samping itu, maraknya kota lain baik dari dalam maupun luar negeri, yang studi banding ke Surabaya juga menandakan bahwa Surabaya memang punya nilai lebih dibanding kota-kota lain.
“Secara keseluruhan, pelaksanaan pembangunan di Surabaya sudah berjalan dengan baik,” ujar Johan
Namun, di tengah sederet capaian Surabaya itu, Johan memberikan masukan soal pelaksanaan proyek. Menurut dia, kinerja kontraktor juga harus ditingkatkan. “Pemkot harus menyertakan persyaratan komitmen dari kontraktor agar kinerjanya tidak mengganggu kepentingan umum. Kota ini sudah ‘naik kelas’, kontraktornya juga harus ‘naik kelas’ dong,” imbuhnya.
Pernyataan Johan Silas itu merujuk pada masih banyaknya dijumpaik kontraktor yang meletakkan material proyek sembarangan sehingga menyebabkan kemacetan. Serta, terkait jadwal kerja kontraktor yang sebisa mungkin diatur pada saat kondisi lalu lintas tidak sedang padat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




