Bupati Syahri Mulyo saat mendatangi Mbah Miran di gubuknya.
Nasib Mbah Miran beserta istrinya yang sudah renta, sakit-sakitan dan terlunta-lunta tanpa tempat tinggal memadai sempat memicu kecaman netizen Tulungagung di media sosial facebook.
Selain mengkritik sikap sang anak angkat dan menantu yang dianggap durhaka, warga dan netizen juga mendesak pemerintah daerah setempat segera mengambil tindakan dengan membantu keduanya.
"Dulu sudah kami usulkan namun ditolak dinsosnakertran dengan alasan saat itu masih ada yang merawat sementara di Panti Wreda mengharuskan adanya tenaga perawat dari pihak keluarga," kata warga lain.
Menanggapi hal itu, Bupati Sahri beralasan tindakan evakuasi terhadap pasangan jompo tuna wisma itu dikarenakan informasi yang tidak valid dan lengkap dari masyarakat maupun perangkat desa. "Selain itu, dulu Mbah Miran ini masih ada yang merawat yaitu istrinya meski hidup menumpang di tanah orang lain. Jadi kendalanya banyak, terutama kesediaan keluarga yang memang tidak selalu mengizinkan mereka dirawat di panti wreda," kata Sahri.
Bupati berharap, ke depan masyarakat dan perangkat desa/kelurahan proaktif dalam melaporkan jika terjadi kasus serupa atau aneka masalah sosial di daerah.
Minimnya tenaga lapangan di Dinsosnakertran Tulungagung menurut Sahri menjadi faktor utama lambannya penanggulangan masalah sosial berlatar kemiskinan seperti fenomena Mbah Miran tersebut.(ant/rus)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




