Seorang orang tua memarahi anaknya. foto: ilustrasi
Tragedi pelecehan seksual massal yang terjadi pada tahun 1998 lalu hingga kini masih menimbulkan tanda tanya besar. Saat itu perempuan etnis Tionghoa banyak menjadi korban dari kasus yang hingga kini masih misterius tersebut. Benarkah kasus perkosaan massal itu memang terjadi? Namun jika melihat pada masa sekarang, tragedi itu seperti terulang kembali walaupun dengan latar belakang masalah dan ‘korban’ yang berbeda. Jika saat 1998 lalu yang menjadi korban adalah perempuan-peremuan dari etnis Tionghoa, kali ini yang menjadi korban adalah warga pribumi sendiri.
Belakangan terdengar kasus Enno dan juga kasus mirip Enno di Manado. Gagang cangkul yang menancap di kemaluan Eno itu merupakan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Publik juga sebelumnya dihebohkan dengan kasus Yuyun, bocah SMP di Rejang Lebong, Bengkulu, yang diperkosa 14 pemuda akibat pengaruh miras.
Kasus-kasus ini mengundang perhatian banyak pihak, utamanya Komnas Wanita. Mereka menilai kasus ini harus ditangani serius dan tuntas agar tidak terjadi kasus serupa di waktu yang akan datang. Selain itu, Komnas Wanita juga menilai bahwa hal ini dapat menyebabkan turunnya mental dan hilangnya rasa percaya diri pada kaum perempuan.
Saat ini pergaulan memang semakin miris saja. Kita seakan-akan kembali pada zaman jahiliyah, di mana para muda-mudi dalam berpacaran tidak memandang tempat. Di taman-taman kota yang merupakan tempat umum, mereka dengan pede-nya berpelukan dan berciuman. Mereka menganggap itu sudah hal yang biasa.
Mengapa kondisi ini terjadi di Indonesia yang notabene adalah Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia? Jawabannya adalah karena semakin maraknya pergaulan bebas. Pergaulan bebas adalah budaya barat. Budaya ini dibawa oleh pesatnya perkembangan zaman. Dewasa ini budaya barat memang semakin gencar masuk. Untuk itu, kita harus mempunyai filter agar bisa membedakan mana budaya yang positif dan mana budaya yang negatif.
Dalam buku Ranjau-Ranjau Pergaulan Bebas karya Abdul Baqi Ramdhun dikatakan “penyebab pergaulan bebas itu karena tidak adanya perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam pandangan mereka. Demikian itu mereka tentukan berdasarkan prasangka belaka. Seandainya mereka merujuk kepada petunjuk agama, ilmu pengetahuan, dan ilmu kedokteran, mereka pasti menyadari kebodohan mereka. Atau, boleh jadi mereka sudah tahu petunjuk agama, ilmu pengetahuan, dan ilmu kedokteran, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Seperti seorang dokter yang memahami bahaya minuman keras atau merokok, tetapi dia tetap mengkonsumsinya.”
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




