Seorang orang tua memarahi anaknya. foto: ilustrasi
Menilik kasus-kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa pelecehan seksual berawal dari seseorang yang memiliki hubungan dengan lawan jenisnya terlalu berlebihan. Namun, ketertarikan atau hubungan tersebut hanya disebabkan oleh adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan tersebut tidak dijalani sesuai dengan petunjuk agama. Dalam kasus Enno, ternyata Enno dan pacarnya sudah berulang kali berhubungan badan. Jika meminjam kata-kata Abdul Baqi Ramdhun, tentu mereka termasuk orang yang tidak menyadari kebodohannya karena berpacaran tanpa merujuk pada petunjuk agama.
Selain itu, berdasar kasus-kasus tersebut, kurangnya pendidikan juga menjadi faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual. Apalagi zaman sekarang mudah sekali mengakses situs-situs dewasa yang mengundang rasa ingin tahu anak di bawah umur. Sementara dalam kasus Yuyun, para tersangka sebelumnya menenggak miras dan kemudian menonton video porno. Mereka kemudian tergiur untuk meniru adegan dalam video tersebut dan menjadikan Yuyun sebagai pelampiasan.
Untuk mengantisipasi agar tidak terulang kasus Enno maupun Yuyun, kuncinya adalah selain dari diri sendiri, yaitu dari orang tua. Orang tua harus memantau setiap aktivitas anak. Orang tua harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak. Karena tak bisa dipungkiri bahwa 70 persen waktu sang anak dihabiskan di rumah alias bersama orang tua.
Oleh karena itu orang tua harus bisa menjadi tempat pengaduan jika sang anak ada masalah. Buat agar anak dapat jujur dan terbuka kepada orang tua. Ajarkan nilai-nilai agama pada anak. Dengan begitu, terjerumusnya anak ke dalam pergaulan bebas yang mengundang pelecehan seksual dapat diminimalisir semaksimal mungkin.
Oleh: Mohammad
Sulthon Neagara, Mahasiswa aktif Fakultas
Ushuluddin, UIN Sunan Ampel, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




