Para narasumber dan pembanding Bedah Buku "Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj" di STAI Miftahul Ulum Pamekasan, kemarin. foto: BANGSAONLINE
Said Aqil dalam bukunya mengutip riwayat percakapan antara Abbas dengan Afit yang waktu itu keduanya masih kafir. "Nabi Muhammad SAW mengaku seorang Nabi, dia mengira bisa menguasai Romawi dan Persia," ujar Qusyairi mengutip percakapan Abbas dengan Afit.
"Ucapan Abbas ini yang dijadikan pedoman oleh Said Aqil,” tutur Qusyari yang juga mengajar di PP Sidogiri.
“Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah mengejar kekuasaan, apalagi kekayaan. Tetapi murni untuk memperbaiki akhlak umat yang waktu itu sangat buruk,” ungkapnya.
Sementara menurut pembanding, Chabib Musthofa, Said Aqil tidak bisa disalahkan sepenuhnya meski ada yang kontroversi dalam bukunya. Sebab, dijelaskan Chabib, tulisan Said Aqil itu dibuat saat berada di Saudi dan belum ada pencerahan. Menurutnya, dakwah memang tidak bisa lepas dari politik.
"Tetapi politik sekarang tidak sama seperti jaman Nabi Muhammad SAW yang tidak tertuju kekuasaan dan kekayaan seperti saat ini," ungkap Chabib.
Bedah buku ini diikuti perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kabupaten Pamekasan.
Selain mahasiswa, tampak hadir pengasuh dan pembina yayasan Al-Miftah, R.KH. Mohammad Mudatsir Badrudin, KH. Taufik Hasim MPd dari Pondok Pesantren Sumber Anom dan KH. Abdul Barri Rohman, pengasuh PP Buddagan Palengaan. (pmk1/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




