Kapas jadi Kendala Pendirian Pabrik Tekstil di Madura

Kapas jadi Kendala Pendirian Pabrik Tekstil di Madura Perajin batik Madura sedang menyelesaikan pekerjaannya. Pendirian pabrik tekstil untuk mendukung kebutuhan kain batik terkendala persediaan kapas.

Namun, sambung Heri, peluang untuk menanam kapas masih terbuka kendati dalam skala kecil. Selain pembekalan menanam, petani harus mengetahui dampak penanaman kapas, prospek, dan cara memasarkan kapas.

"Saya kira para petani tidak mau ruwet karena menanam padi dan jagunng hasilnya sudah cukup bagi mereka. Terpenting, bagaimana merubah mind set bertani padi ke kapas. Itu yang diperlukan," tegas dia.

Bangkalan sebagai kabupaten penghasil batik harus memenuhi kebutuhan kain dari Pekalongan karena di Bangkalan belum memiliki pabrik tekstil.

Catatan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangkalan menyebutkan, total perajin batik yang tersebar di Kecamatan Tanjung Bumi, Kota, Kokop, Modung, dan Burneh berjumlah 1.500 orang.

Rata-rata harga per lembar kain batik sebesar Rp 20 ribu, para perajin membelanjakan uangnya sebesar Rp 9,6 miliar per tahun.

Pendirian pabrik tekstil diyakini Disperindag Bangkalan akan mampu memangkas ongkos belanja kain batik dari Pekalongan, dan berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah.

Apalagi, produksi batik di Bangkalan mampu mencapai 40 ribu lembar per bulan dengan perputaran uang mencapai Rp 8 miliar per bulan atau Rp 96 miliar per tahun. (trb/lan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Minta Pesawat yang Bisa Mendarat di Matahari':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO