Menjaga Kewarasan di Tengah Himpitan Ekonomi dan Zaman

Menjaga Kewarasan di Tengah Himpitan Ekonomi dan Zaman Gus Bahar. Foto: dok. pribadi

Oleh: Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak

Belakangan ini, di warung kopi, di terminal, di pasar, hingga di ruang keluarga, topik yang sama terus mengemuka: BBM melambung, US Dollar tembus Rp 8.000. Menyusul harga kebutuhan pokok seperti cabai, minyak goreng, ongkos sekolah, bahkan tarif angkutan umum ikut terkerek. Semua terasa mahal.Sementara penghasilan tetap, malah kadang menurun. 

BACA JUGA:

Wajar jika kita mengeluh. Keluhan adalah tanda bahwa seseorang masih peduli pada kehidupannya. Namun di tengah tekanan seperti ini, ada bahaya yang lebih besar daripada naiknya harga, yaitu naiknya stress. Orang menjadi mudah marah, cepat tersinggung, dan gampang menghakimi. Kritik dianggap sebagai serangan pribadi. Perbedaan pendapat dengan cepat berubah menjadi permusuhan. Suasana menjadi panas. Padahal perut masih keroncongan, tetapi hati sudah lebih dulu susut oleh kebencian.

Setiap memiliki ujiannya sendiri. Dulu ujian datang dalam bentuk perang atau penjajahan. Sekarang ujian datang lebih halus: tekanan ekonomi, ketidakpastian sosial, dan suasana publik yang mudah tersulut seperti tumpukan jerami kering.

Dalam situasi seperti ini, akan muncul dua reaksi ekstrem. Reaksi pertama:menutup mata dan telinga, seolah tidak ada masalah. Orang memilih diam, tidak mau tahu, tidak mau repot. Reaksi kedua: meluapkan kemarahan tanpa arah. Ikut-ikutan marah tanpa memahami persoalan sesungguhnya. Menyalahkan siapa saja tanpa bukti jelas.

Keduanya sama-sama berbahaya. Orang yang diam, masalah tidak akan selesai. Orang yang meledak-ledak, masalah justru bertambah runyam. Dalam hal ini kita sebenarnya membutuhkan kemampuan menjaga ditengah keadaan yang tidak sehat.

Sejarah mengajarkan bahwa sebuah masyarakat jarang runtuh hanya karena harga barang naik. Banyak bangsa pernah mengalami inflasi, krisis ekonomi, bahkan kelaparan. Namun mereka tetap bertahan. Yang sering menghancurkan sebuah masyarakat adalah ketika tekanan ekonomi diubah menjadi bahan bakar untuk saling membenci. 

Saat perut lapar, manusia masih bisa mencari makanan. Saat dompet menipis, manusia masih bisa bekerja lebih giat. Tetapi ketika hati dipenuhi kebencian dan pikiran dipenuhi prasangka, kerusakan yang lahir jauh lebih sulit diperbaiki. Rumah tangga bisa pecah, tetangga bisa saling fitnah, dan bangsa bisa terbelah.

Para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah serta para kiai pesantren mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: jangan mudah menjadi alat bagi kepentingan yang tidak kita pahami sepenuhnya. Mereka tidak pernah mengajarkan untuk menutup mata terhadap kesulitan rakyat. Sebaliknya, para ulama selalu berdiri bersama masyarakat yang menghadapi kesulitan hidup. Mereka memahami bahwa pemimpin memiliki kewajiban mendengar rakyat, dan rakyat memiliki hak menyampaikan keadaan yang mereka alami.

Namun para ulama juga memahami satu rahasia besar: tidak semua orang yang berbicara atas nama rakyat benar-benar memperjuangkan rakyat. Sejarah penuh dengan orang-orang yang memanfaatkan kesulitan masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika ekonomi memburuk, mereka menyulut kemarahan. Ketika masyarakat kecewa, mereka memperbesar kekecewaan itu. Mereka hidup dari suasana gaduh. Padahal kegaduhan bukanlah solusi. Kegaduhan hanya membuat masalah menjadi lebih besar.

Di sinilah pentingnya warisan kebijaksanaan dari pesantren: tabayyun, atau memeriksa informasi terlebih dahulu sebelum mengambil sikap. Di era media sosial, banyak orang bereaksi lebih cepat daripada berpikir. Sebuah potongan video dapat memancing kemarahan nasional hanya dalam hitungan jam. Sebuah unggahan dapat memecah hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun. Banyak orang akhirnya lebih mengenal emosi daripada fakta, lebih mengenal kemarahan daripada penjelasan, lebih mengenal propaganda daripada ilmu.

Padahal Islam mengajarkan tabayyun bukan berarti semua informasi harus ditolak, dan bukan berarti semua kritik harus dihentikan. Tetapi setiap informasi harus diperiksa, setiap tuduhan harus diteliti, dan setiap keputusan harus dipikirkan dampaknya. Sikap seperti ini sering dianggap kurang tegas. Padahal justru inilah ketegasan yang sesungguhnya. Mudah terbawa arus tidak membutuhkan kedewasaan. Menjaga tetap tenang ketika orang lain resah.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memahami bahwa kritik bukanlah musuh negara. Dalam sejarah Islam, para ulama besar sering memberikan nasihat kepada penguasa. Kadang nasihat itu keras, kadang lembut, tetapi tujuannya sama: menjaga kemaslahatan masyarakat. 

Sebuah pemerintahan yang sehat tidak takut terhadap kritik yang jujur. Kritik yang jujur ibarat cermin. Memang tidak selalu menyenangkan, tetapi membantu melihat kekurangan yang mungkin tidak terlihat. Sebaliknya, ketika semua kritik dianggap ancaman, yang tersisa  hanyalah pujian-pujian kosong. Pujian kosong sering kali lebih berbahaya daripada kritik yang tajam. 

Banyak kerajaan dalam sejarah runtuh bukan karena terlalu banyak dikritik, melainkan karena terlalu lama hidup dalam ruang gema yang hanya mengulang hal-hal yang ingin didengar penguasa.

Namun masyarakat juga harus memahami bahwa tidak semua kritik memiliki tujuan yang mulia. Ada kritik yang bertujuan memperbaiki, ada pula kritik yang bertujuan merusak. Ada kritik yang lahir dari kepedulian, ada pula kritik yang lahir dari ambisi pribadi. Membedakan keduanya membutuhkan ilmu dan kedewasaan. Karena itu, umat tidak boleh hanya bertanya, "Siapa yang berbicara?" Tetapi juga harus bertanya, "Ke mana arah yang ingin dicapai oleh pembicaraan ini?" Jika tujuan akhirnya adalah perbaikan, kritik tersebut layak didengar. Jika tujuan akhirnya hanya menambah kebencian dan perpecahan, masyarakat perlu berhati-hati.

Di tengah situasi ekonomi yang tak waras ini, sesungguhnya yang paling dibutuhkan bukanlah sekadar kemarahan atau pembelaan membabi buta terhadap pemerintah. Justru yang dibutuhkan adalah kepercayaan sosial. Kepercayaan antara rakyat dan pemimpin, antara ulama dan umara, antara kelompok yang berbeda pandangan. Ketika kepercayaan hilang, setiap kebijakan akan dicurigai.

Setiap nasihat akan dianggap memiliki agenda tersembunyi. Setiap perbedaan akan dianggap permusuhan. Pada titik itulah masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

Para ulama terdahulu memberi teladan yang saya kira sangat baik. Mereka tidak menjadikan mimbar sebagai tempat memproduksi kebencian. Mereka juga tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai alasan untuk menutup mata terhadap kesalahan. Mereka berada di tengah: menyampaikan kebenaran tanpa merusak persaudaraan, menjaga hubungan tanpa menjual prinsip. Sikap seperti ini memang tidak populer. Tidak menghasilkan tepuk tangan meriah. Tidak mudah menjadi viral. Namun justru sikap inilah yang selama berabad-abad menjaga keberlangsungan masyarakat Muslim di nusantara dan bahkan dunia.

Inilah pesan terpenting untuk saudara-saudara kita, para pedagang di pasar, tukang ojek, buruh bangunan, ibu-ibu yang setiap pagi memikirkan menu masak dengan uang pas-pasan. Badai pasti berlalu. Harga akan berubah. Pejabat akan berganti. Partai politik akan naik dan turun. Namun jangan sampai persaudaraan kita hancur. Jangan sampai kepercayaan yang telah puluhan tahun dibangun lenyap dalam satu hari karena informasi yang belum jelas kebenarannya.

Allah memisalkan kebatilan seperti buih yang hilang, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi. Kejahatan itu seperti bayangan. Ia akan tampak besar jika kita menghadapinya. Tetapi saat kita berbalik ke arah cahaya, bayangan itu berada di belakang dan perlahan lenyap. Maka janganlah takut terhadap keburukan. Keburukan akan hilang dengan sendirinya jika kita semua kompak menjaga kebaikan.

Tetaplah kritis tetapi jangan kehilangan adab. Tetaplah peduli tetapi jangan kehilangan akal sehat. Tetaplah menyampaikan kebenaran tetapi jangan kehilangan kasih sayang. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bangsa ini bukanlah siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling kuat menjaga persaudaraan di tengah ujian. Keburukan akan hilang, kebenaran akan abadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO