Menjaga Kewarasan di Tengah Himpitan Ekonomi dan Zaman

Menjaga Kewarasan di Tengah Himpitan Ekonomi dan Zaman Gus Bahar. Foto: dok. pribadi

Padahal Islam mengajarkan tabayyun bukan berarti semua informasi harus ditolak, dan bukan berarti semua kritik harus dihentikan. Tetapi setiap informasi harus diperiksa, setiap tuduhan harus diteliti, dan setiap keputusan harus dipikirkan dampaknya. Sikap seperti ini sering dianggap kurang tegas. Padahal justru inilah ketegasan yang sesungguhnya. Mudah terbawa arus tidak membutuhkan kedewasaan. Menjaga tetap tenang ketika orang lain resah.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memahami bahwa kritik bukanlah musuh negara. Dalam sejarah Islam, para ulama besar sering memberikan nasihat kepada penguasa. Kadang nasihat itu keras, kadang lembut, tetapi tujuannya sama: menjaga kemaslahatan masyarakat. 

Sebuah pemerintahan yang sehat tidak takut terhadap kritik yang jujur. Kritik yang jujur ibarat cermin. Memang tidak selalu menyenangkan, tetapi membantu melihat kekurangan yang mungkin tidak terlihat. Sebaliknya, ketika semua kritik dianggap ancaman, yang tersisa  hanyalah pujian-pujian kosong. Pujian kosong sering kali lebih berbahaya daripada kritik yang tajam. 

Banyak kerajaan dalam sejarah runtuh bukan karena terlalu banyak dikritik, melainkan karena terlalu lama hidup dalam ruang gema yang hanya mengulang hal-hal yang ingin didengar penguasa.

Namun masyarakat juga harus memahami bahwa tidak semua kritik memiliki tujuan yang mulia. Ada kritik yang bertujuan memperbaiki, ada pula kritik yang bertujuan merusak. Ada kritik yang lahir dari kepedulian, ada pula kritik yang lahir dari ambisi pribadi. Membedakan keduanya membutuhkan ilmu dan kedewasaan. Karena itu, umat tidak boleh hanya bertanya, "Siapa yang berbicara?" Tetapi juga harus bertanya, "Ke mana arah yang ingin dicapai oleh pembicaraan ini?" Jika tujuan akhirnya adalah perbaikan, kritik tersebut layak didengar. Jika tujuan akhirnya hanya menambah kebencian dan perpecahan, masyarakat perlu berhati-hati.

Di tengah situasi ekonomi yang tak waras ini, sesungguhnya yang paling dibutuhkan bukanlah sekadar kemarahan atau pembelaan membabi buta terhadap pemerintah. Justru yang dibutuhkan adalah kepercayaan sosial. Kepercayaan antara rakyat dan pemimpin, antara ulama dan umara, antara kelompok yang berbeda pandangan. Ketika kepercayaan hilang, setiap kebijakan akan dicurigai.

Setiap nasihat akan dianggap memiliki agenda tersembunyi. Setiap perbedaan akan dianggap permusuhan. Pada titik itulah masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

Para ulama terdahulu memberi teladan yang saya kira sangat baik. Mereka tidak menjadikan mimbar sebagai tempat memproduksi kebencian. Mereka juga tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai alasan untuk menutup mata terhadap kesalahan. Mereka berada di tengah: menyampaikan kebenaran tanpa merusak persaudaraan, menjaga hubungan tanpa menjual prinsip. Sikap seperti ini memang tidak populer. Tidak menghasilkan tepuk tangan meriah. Tidak mudah menjadi viral. Namun justru sikap inilah yang selama berabad-abad menjaga keberlangsungan masyarakat Muslim di nusantara dan bahkan dunia.

Inilah pesan terpenting untuk saudara-saudara kita, para pedagang di pasar, tukang ojek, buruh bangunan, ibu-ibu yang setiap pagi memikirkan menu masak dengan uang pas-pasan. Badai pasti berlalu. Harga akan berubah. Pejabat akan berganti. Partai politik akan naik dan turun. Namun jangan sampai persaudaraan kita hancur. Jangan sampai kepercayaan yang telah puluhan tahun dibangun lenyap dalam satu hari karena informasi yang belum jelas kebenarannya.

Allah memisalkan kebatilan seperti buih yang hilang, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi. Kejahatan itu seperti bayangan. Ia akan tampak besar jika kita menghadapinya. Tetapi saat kita berbalik ke arah cahaya, bayangan itu berada di belakang dan perlahan lenyap. Maka janganlah takut terhadap keburukan. Keburukan akan hilang dengan sendirinya jika kita semua kompak menjaga kebaikan.

Tetaplah kritis tetapi jangan kehilangan adab. Tetaplah peduli tetapi jangan kehilangan akal sehat. Tetaplah menyampaikan kebenaran tetapi jangan kehilangan kasih sayang. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bangsa ini bukanlah siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling kuat menjaga persaudaraan di tengah ujian. Keburukan akan hilang, kebenaran akan abadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO