Ribut Mahendra, guru honorer yang juga bekerja sebagai tukang pecah batu. foto: soewandito/ BANGSAONLINE
Ditanya wartawan besaran upah setiap harinya sebagai pemecah batu dia mengaku karena pekerjaan itu dilakukan lebih dari satu orang, maka hasilnya pun harus dibagi bersama sama.
Menurut dia, setiap satu rit batu koral dihargai Rp 600 ribu. Jadi setiap orangnya menerima uang borongan sekitar Rp 120 ribu . Itu biasanya dikerjakan memakan waktu selama dua hari bahkan bisa lebih.
“Kalau musim penghujan seperti ini maka akan sulit mencapai satu rit,’’ paparnya Rabu (25/11) saat ditemui di lokasi di mana dia bekerja bersama sejumlah wartawan.
Dengan himpitan ekonomi seperti yang dialaminya itu, dia berharap kepada pemerintahan Presiden Jokowi untuk bisa memperhatikan nasib para guru honorer di Kabupaten Nganjuk yang sampai saat ini nasibnya masih terkatung katung karena belum diangkat menjadi PNS. ‘’Kami atas nama kelompok guru tidak tetap berharap kepada presiden untuk sudinya memberikan harapan yang pasti akan nasib kami,’’ pintanya.
Sementara di tempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga Kabupaten Nganjuk, Dra.Widiasti, M.S.i menegaskan bahwa wacana tahun 2016 nantinya honor GTT –PTT akan naik menjadi Rp 1 juta per bulan.
“Kalau selama ini hanya Rp 530 ribu, maka pada tahun 2016 akan dinaikkan menjadi Rp 1 juta per bulan. Mudah-mudahan wacana ini akan segera terealisasi dan sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah terkait persoalan kejahteraan guru honorer,’’ katanya. (dit/sta/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




