Gus Bahar. Foto: dok. pribadi
Tetapi menariknya, harapan dan rasa aman kepada rahmat Allah justru menjadi tenaga terbesar dalam istiqamah. Coba perhatikan kehidupan sehari-hari. Kenapa banyak orang berat shalat?
Kadang bukan karena tidak tahu hukumnya. Tetapi karena dalam batinnya, ia belum menemukan ketenangan saat bertemu Allah. Shalat masih dianggap aktivitas tambahan, bukan tempat pulang.
Kenapa ada orang mudah meninggalkan maksiat? Bukan selalu karena ancaman neraka. Kadang karena ia sudah merasakan manisnya dekat dengan Allah sehingga maksiat terasa mengganggu ketenangan batinnya. Ini penting dipahami. Syariat bukan sekadar sistem aturan. Syariat adalah jalan menjaga kesehatan ruhani manusia.
Seperti orang olahraga bukan karena dipaksa, tetapi karena tubuh terasa enak setelah bergerak. Awalnya memang berat. Tetapi ketika tubuh sudah merasakan manfaatnya, justru kalau tidak olahraga badan terasa tidak nyaman.
Begitu juga ibadah. Di awal mungkin terasa berat. Tetapi ketika hati sudah hidup, justru meninggalkan ibadah terasa ada yang hilang.
Makanya para ulama sering mengatakan bahwa ahli ibadah sejati bukan hanya yang banyak amalnya, tetapi yang menikmati amalnya. Kenikmatan itu justru lahir dari ma’rifat — mengenal Allah.
Dalam ilmu kalam, mengenal Allah bukan berarti membayangkan bentuk-Nya. Tetapi memahami sifat-sifat-Nya melalui ciptaan dan rahmat-Nya. Saat seseorang sadar bahwa hidupnya terus diatur Allah dengan kasih sayang, muncul rasa tenang yang dalam.
Dia sadar: “Kalau rezeki tertahan, Allah tahu.” “Kalau doaku lama terkabul, Allah tahu.” “Kalau aku sedang diuji, Allah tidak meninggalkanku.” Dari sini lahir kebahagiaan yang tidak bergantung penuh pada keadaan dunia. Inilah yang membuat seorang mukmin bisa tetap tersenyum meski hidupnya berat.
Karena bahagianya bukan berasal dari dunia yang mudah hilang, tetapi dari hubungan dengan Allah yang tidak bisa dirampas siapa pun. Sampai-sampai ada ulama mengatakan, “Kalau para raja tahu nikmatnya dekat dengan Allah, mereka akan memerangi kami dengan pedang untuk merebutnya.” Kalimat ini bukan berlebihan. Sebab ketenangan iman memang menciptakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Orang yang hatinya dekat dengan Allah tidak berarti hidupnya tanpa masalah. Tetap ada fitnah, sakit, kehilangan, dan kesulitan. Tetapi batinnya tidak mudah runtuh. Seperti kapal yang tetap dihantam ombak, tetapi tidak tenggelam karena memiliki keseimbangan. Menariknya, kebahagiaan seperti ini membuat syariat terasa lebih mudah dijalankan. Bangun malam terasa nikmat. Sedekah terasa ringan. Memaafkan terasa mungkin. Sabar terasa masuk akal.
Ini terjadi karena hati tidak lagi merasa sendirian. Orang yang bahagia bersama Allah tidak menjalankan agama sekadar karena takut dosa, tetapi karena merasa ditemani Tuhan. Ini yang membuat iman menjadi hidup.
Maka tugas dakwah hari ini bukan hanya membuat orang tahu halal-haram, tetapi juga membuat manusia merasakan indahnya dekat kepada Allah. Karena banyak orang sebenarnya tidak lari dari agama. Mereka hanya lelah dengan cara agama disampaikan tanpa kasih sayang.
Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri diutus sebagai rahmat. Bahkan kepada orang berdosa pun, Nabi masih membuka pintu harapan. Artinya Islam memang ingin membawa manusia menuju keselamatan batin sebelum kesempurnaan amal. Sebab amal tanpa ketenangan hati sering berubah menjadi keras.
Tetapi hati yang sudah dipenuhi cinta kepada Allah akan perlahan memperbaiki amalnya sendiri. Maka jangan heran kalau ada orang sederhana, mungkin ilmunya tidak tinggi, tetapi ketika adzan berkumandang matanya berkaca-kaca. Karena yang bergerak bukan sekadar pikirannya, tetapi hatinya. Di situlah letak rahasia iman.
Iman bukan hanya apa yang dipahami akal, tetapi apa yang membuat hati merasa pulang. Kalau hati sudah merasa pulang kepada Allah, syariat tidak lagi terasa sebagai rantai. Ia berubah menjadi jalan pulang yang paling menenangkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




