Gus Bahar. Foto: dok. pribadi
Oleh: Gus Bahar
Pesantren Salafiyah Seblak
JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Ada orang yang shalat lima waktu, tapi seolah ekspresinya sedang memikul dunia. Ada yang mengaji tiap malam, tapi mudah tersulut amarah. Ada yang rajin menghadiri majelis, tetapi hidupnya terasa sempit dan penuh curiga.
Di sisi lain, ada orang sederhana yang ketika mendengar adzan hatinya langsung tenang. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena ada rasa nyaman saat mendekat kepada Allah.
Di sinilah kita perlu memahami sesuatu yang sering terbalik dalam cara berpikir kita: kebahagiaan bukan hadiah terakhir setelah beriman. Justru kebahagiaan hati adalah pintu agar iman terasa hidup dan syariat terasa nikmat. Banyak orang mengira agama itu dimulai dari beban. Padahal dalam banyak pembahasan ilmu kalam, iman justru berhubungan dengan ketenangan jiwa saat mengenal hakikat Tuhan.
Ketika manusia mengenal Allah dengan benar, yang lahir pertama kali bukan tekanan, melainkan rasa aman. Karena inti tauhid bukan sekadar “Allah itu ada.” Bahkan iblis pun tahu Allah ada.
Tauhid adalah ketika hati mengenal bahwa Allah adalah tempat kembali paling aman bagi dirinya. Maka orang yang mengenal Allah dengan benar akan perlahan merasa ringan menjalani syariat. Shalat tidak lagi terasa seperti absensi. Dzikir tidak terasa seperti hukuman. Sedekah tidak terasa seperti kehilangan. Semua berubah menjadi kebutuhan hati.
Kita sebagai manusia itu pasti bergerak oleh rasa. Coba lihat orang yang jatuh cinta. Dia rela begadang, rela menunggu, rela menempuh jarak jauh hanya untuk bertemu seseorang yang dicintainya. Anehnya, semua itu tidak terasa berat.
Padahal secara logika melelahkan. Begitulah iman. Kalau iman hanya dipahami sebagai daftar kewajiban, manusia cepat lelah. Tetapi kalau iman tumbuh menjadi rasa nyaman kepada Allah, syariat berubah menjadi kenikmatan.
Dalam pembahasan ilmu kalam, manusia bukan hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk yang mencari ketenteraman wujud. Hati manusia selalu mencari tempat bersandar. Karena itu manusia modern walaupun punya uang, kendaraan bagus, rumah besar, tetap bisa gelisah. Sebab masalah utama manusia bukan sekadar kurang harta, tetapi kehilangan makna aman dalam hidup.
Makanya ada orang yang tidur di kamar ber-AC tetapi pikirannya panas. Ada tukang becak yang tidur di pinggir jalan tetapi bisa mendengkur nyenyak. Bahagia ternyata bukan soal keadaan luar, tetapi keadaan hubungan hati.
Dalam perspektif ini, agama datang pertama kali untuk menata hubungan hati itu. Allah tidak memulai Al-Qur’an dengan ancaman terus-menerus. Lihat bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya dengan “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim.” Kasih sayang didahulukan sebelum hukum-hukum berat turun.
Disini hubungan antara makhluk dan sang pencipta bermula. Karena hati manusia perlu dibuat dekat dulu sebelum dibebani. Bahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika berdakwah di Makkah tidak langsung membawa rincian fiqih yang banyak. Yang pertama ditanamkan adalah pengenalan kepada Allah, hari akhir, rahmat, dan harapan.
Karena hati yang sudah mengenal Allah akan lebih mudah menerima aturan-Nya. Ini yang kadang hilang dalam sebagian cara beragama hari ini. Agama sering disampaikan hanya dengan nada takut. Seolah Allah hanya sedang mengawasi kesalahan manusia. Akibatnya banyak orang menjalankan syariat sambil tegang. Padahal rasa takut dalam Islam bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar manusia tetap sadar arah.
Para ahli ilmu kalam menjelaskan bahwa iman yang sehat berdiri di antara khauf dan raja’ — takut dan harap. Kalau hanya takut, manusia mudah keras dan putus asa. Kalau hanya harap tanpa takut, manusia mudah meremehkan dosa. Maka keduanya harus hidup bersama.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




