Foto fosil Wajakensis dan Red Painted Skeleton
TULUNGAGUNG,BANGSAONLINE.com - Nama Homo Wajakensis selama ini dikenal sebagai salah satu penemuan manusia purba penting dari Tulungagung.
Namun, di balik temuan tersebut, tersimpan misteri lain berupa fosil Red Painted Skeleton yang ditemukan di kawasan karst Wajak, Campurdarat.
BACA JUGA:
- BPJS Satu dan PIPP Jadi Andalan Peserta JKN saat Jalani Perawatan di Rumah Sakit
- Jasad Wanita Tanpa Identitas Ditemukan Mengenaskan di Pantai Cemoro Sewu Tulungagung
- Deteksi Dini, BPJS Kesehatan Tulungagung Lakukan Skrining Siswa Sekolah Rakyat di Trenggalek
- Gubernur Khofifah Resmikan Revitalisasi 45 Sekolah di Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan
Temuan itu kembali menjadi perhatian setelah pemerhati sejarah Tulungagung, Andri Syambudi, menerima dokumentasi foto fosil dari Museum Naturalis Biodiversity Center Leiden, Belanda.
Foto-foto tersebut memperlihatkan tengkorak dan rahang manusia purba dengan keterangan Hoekgrot Red Painted Skeleton serta “Fosil Wadjak 2”.
Berdasarkan dokumen tersebut, fosil ditemukan di Goa Hoekgrot, kawasan Pegunungan Karst Distrik Wadjak atau Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung oleh Eugene Dubois pada 1889.
Andri mengatakan komunikasi dengan pihak museum di Belanda mulai dilakukan sejak Mei tahun ini. Ia sengaja meminta data mengenai temuan lain selain Homo Wajakensis atau Wadjakensis 1 yang selama ini lebih dikenal masyarakat.
“Ketiga file dokumen foto fosil ini saya mendapatkan dari museum di Belanda, sebelumnya saya berkordinasi dengan pihak direktur untuk meminta hasil temuan lain selain Wadjak Kensis 1,” kata Andri saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (22/5/2026).
Menurut Andri, pihak Museum Naturalis Leiden memberikan respons cepat atas permintaan tersebut. Pada 18 Mei lalu, ia menerima balasan berupa file foto fosil lengkap beserta dokumen penelitian terkait kedua fosil tersebut.
“Komunikasi dengan pihak museum di Belanda mulai bulan Mei tahun ini, Alhamdulillah kami langsung mendapat respon dan mendapatkan balasan pada 18 Mei lalu beserta file foto fosilnya lengkap dengan dokumen penelitian kedua fosil tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan Red Painted Skeleton berada di kawasan yang sama dengan lokasi ditemukannya Homo Wajakensis di Campurdarat. Hal itu memperkuat dugaan bahwa kawasan karst Wajak menjadi salah satu pusat kehidupan manusia purba pada masa lampau.
“Yang menarik ada lokasi penemuan dua fosil ini satu lokasi dengan kawasan ditemukannya fosil Wadjak Kensis saat itu,” jelasnya.
Andri juga mengungkapkan fosil Red Painted Skeleton diduga berjenis kelamin perempuan dengan perkiraan usia sekitar 25 tahun. Fosil tersebut dinilai unik karena terdapat tanda merah pada bagian tengkoraknya.
“Fosil itu berjenis kelamin perempuan, perkiraan usia 25 tahun. Dan fosil Red Painted Skeleton cukup menarik sebab ada tanda merah di bagian tengkorak kepala,” ungkapnya.
Istilah Red Painted Skeleton sendiri memunculkan banyak pertanyaan. Dalam dunia arkeologi, istilah tersebut kerap dikaitkan dengan keberadaan pigmen merah atau praktik ritual tertentu pada manusia purba.
Warna merah pada kerangka manusia prasejarah di berbagai temuan dunia sering dihubungkan dengan tradisi penghormatan kematian atau simbol spiritual masyarakat purba.
Meski demikian, kajian lengkap mengenai temuan Red Painted Skeleton dari Campurdarat hingga kini belum banyak diketahui publik.
Selama ini masyarakat lebih mengenal Homo Wajakensis sebagai ikon penemuan manusia purba dari Tulungagung.
Andri berharap dokumentasi yang diperoleh dari Museum Naturalis Leiden dapat melengkapi rekam jejak sejarah panjang Tulungagung sebagai salah satu lokasi penting penemuan manusia purba di Indonesia.
“Rencananya file akan dibagikan kepada pihak lain di Tulungagung yang terlibat untuk melengkapi rekam jejak lama tentang temuan fosil di Tulungagung. Kami juga akan mengirimkan ke museum daerah agar bisa dipajang di sana,” katanya.
Ia juga menyebut fosil asli dari temuan tersebut direncanakan dikirim ke Indonesia dan saat ini masih dalam tahap persiapan pengemasan.
“Nantinya fosil aslinya akan dikirimkan ke Indonesia, yang akan disimpan dalam museum Indonesia, sekarang masih dalam proses packing,” jlentrehnya.
Temuan ini kembali menguatkan perhatian terhadap kawasan karst Campurdarat yang selama ini dikenal menyimpan banyak situs prasejarah penting. Selain Homo Wajakensis, keberadaan Red Painted Skeleton menjadi petunjuk bahwa Tulungagung masih menyimpan banyak misteri tentang kehidupan manusia purba yang belum sepenuhnya terungkap. (fer/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




