Menkeu Purbaya saat menyapa awak media
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dengan krisis moneter 1998 meski nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri pertemuan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
BACA JUGA:
“Tidak khawatir, kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari Rp2.000 melemah kesekian, Rp17.000 kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh,” kata Purbaya.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat.
Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Purbaya menyebut sejumlah ekonom senior yang diundang Presiden Prabowo Subianto juga menilai kondisi fundamental ekonomi nasional masih baik.
Tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008 Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo, dan mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta.
“Kalau dari fundamental sih tidak ada masalah. Mereka setuju (Jika fundamental ekonomi Indonesia masih bagus),” katanya.
Purbaya menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar saham lebih dipengaruhi faktor persepsi dibanding kondisi fundamental ekonomi.
Ia mengatakan pemerintah akan memperkuat sosialisasi terkait capaian dan stabilitas ekonomi nasional kepada publik.
“Mereka bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan ke nilai tukar. Kalau kita lihat sekarang kan serangan bertubi-tubi ke kita, MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar,” ujar Purbaya.
“Tapi kalau dari fundamental sih tidak ada masalah, mereka setuju. Jadi, kita akan memperbaiki cara mungkin kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Burhanuddin Abdullah meminta masyarakat tidak menyamakan kondisi pelemahan rupiah saat ini dengan krisis ekonomi pada masa lalu.
Menurutnya, depresiasi rupiah saat ini hanya sekitar 5 persen dan masih jauh lebih rendah dibanding saat krisis 1998.
"Kan Rp16.000-17.000 ini kan kenaikannya 5 persen, tetapi orang cenderung memikirkannya itu dulu Rp2.500 kan. Nah kecenderungan ini yang barangkali harus lebih banyak dijelaskan, ini perlu di-exercise kepada masyarakat lebih disosialisasikan,” kata Burhanuddin.
“Selama satu tahun 2005 itu hanya 3,4 persen depresiasinya, sekarang 5 persen, jadi kecil sekali sebetulnya dibandingkan dengan dulu. Dulu itu 42 persen zaman krisis, sampai 21 persen tapi kita berpikirnya ke masa lalu yang terlalu jauh,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




