Menkeu Purbaya Klaim Krisis Ekonomi 1998 Tak Akan Terulang

Menkeu Purbaya Klaim Krisis Ekonomi 1998 Tak Akan Terulang Menkeu Purbaya saat menyapa awak media

menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar saham lebih dipengaruhi faktor persepsi dibanding kondisi fundamental ekonomi.

Ia mengatakan pemerintah akan memperkuat sosialisasi terkait capaian dan stabilitas ekonomi nasional kepada publik.

“Mereka bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan ke nilai tukar. Kalau kita lihat sekarang kan serangan bertubi-tubi ke kita, MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar,” ujar .

“Tapi kalau dari fundamental sih tidak ada masalah, mereka setuju. Jadi, kita akan memperbaiki cara mungkin kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Burhanuddin Abdullah meminta masyarakat tidak menyamakan kondisi pelemahan rupiah saat ini dengan krisis ekonomi pada masa lalu.

Menurutnya, depresiasi rupiah saat ini hanya sekitar 5 persen dan masih jauh lebih rendah dibanding saat .

"Kan Rp16.000-17.000 ini kan kenaikannya 5 persen, tetapi orang cenderung memikirkannya itu dulu Rp2.500 kan. Nah kecenderungan ini yang barangkali harus lebih banyak dijelaskan, ini perlu di-exercise kepada masyarakat lebih disosialisasikan,” kata Burhanuddin.

“Selama satu tahun 2005 itu hanya 3,4 persen depresiasinya, sekarang 5 persen, jadi kecil sekali sebetulnya dibandingkan dengan dulu. Dulu itu 42 persen zaman krisis, sampai 21 persen tapi kita berpikirnya ke masa lalu yang terlalu jauh,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ditjen Bea Cukai Ditegur Menkeu Terkait Oknum Penjual Pita Rokok':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO