Menhaj Gus Irfan saat memberi arahan usai melepas keberangkatan Musrif Diny di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Foto: MCH 2026
TANGERANG, BANGSAONLINE.com - Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, melepas keberangkatan Musrif Diny di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (12/5/2026). Keberangkatan ini menjadi bagian dari penguatan layanan bimbingan ibadah bagi jamaah haji Indonesia pada penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M.
Dalam arahannya, Menhaj Gus Irfan menegaskan bahwa Musrif Diny memiliki peran strategis sebagai konsultan ibadah untuk memastikan jamaah memperoleh pendampingan manasik secara benar, sahih, dan menenangkan.
BACA JUGA:
- Kiriman Kursi Roda Tahap 2 dari BSI Tiba di Jeddah, Siap Layani Jemaah Lansia saat Armuzna
- Zayed Foundation Serahkan Bantuan Rp3,3 Miliar untuk 162 Jemaah Haji Indonesia
- Kemenhaj Perkuat Kawal Haji, Laporan Jemaah Kini Dipantau Real Time
- Cuaca Ekstrem Arab Saudi, Jemaah Haji Diimbau Jaga Kesehatan Kaki
"Musrif Diny bukan sekadar pendamping ibadah, tetapi penjaga kualitas manasik jamaah. Mereka memiliki tugas mulia untuk memastikan ibadah haji dilaksanakan secara sahih, tertib, dan tetap memberi kemudahan bagi jamaah sesuai prinsip syariat," ujarnya.
Menurut dia, kehadiran Musrif Diny menjadi penguat pilar pertama dalam konsep Tri Sukses Haji, yaitu sukses ritual. Dua pilar lainnya adalah sukses ekosistem ekonomi haji serta sukses peradaban dan keadaban.
Karena itu, Musrif Diny diharapkan tidak hanya memahami aspek teknis manasik, tetapi juga mampu menghadirkan bimbingan yang mencerahkan dan memperkuat kesadaran spiritual jamaah.
Ditekankan pula terkait pentingnya pemahaman fiqh taisir atau fikih kemudahan dalam layanan bimbingan ibadah, mengingat kondisi jamaah Indonesia yang beragam, termasuk lansia dan mereka dengan keterbatasan fisik.
"Jamaah kita tidak semuanya berada dalam kondisi fisik yang sama. Ada lansia, ada yang memiliki keterbatasan kesehatan, dan ada situasi lapangan yang membutuhkan keputusan cepat. Di sinilah Musrif Diny harus hadir dengan pemahaman fikih yang kokoh, tetapi tetap adaptif dan memberi solusi," kata Gus Irfan.
Ia juga menyoroti sejumlah skema layanan ibadah seperti Safari Wukuf Khusus, Murur di Muzdalifah, dan Tanazul di Mina yang memerlukan pendampingan kuat agar tidak menimbulkan keraguan.
"Safari Wukuf, Murur, maupun Tanazul bukan sekadar pengaturan teknis. Di dalamnya ada landasan fikih yang harus dipahami dan disampaikan dengan baik kepada jamaah. Musrif Diny harus menjadi rujukan yang menenteramkan," ucapnya.
Menhaj Gus Irfan berpesan agar Musrif Diny menjaga integritas, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalankan tugas.
"Kami berharap para Musrif Diny menjadi penguat layanan ibadah di Tanah Suci. Bimbinglah jamaah dengan ilmu, layani dengan hati, dan jadikan setiap pendampingan sebagai bagian dari pengabdian kepada umat," pungkasnya. (msn/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




