Rumah Kompos Jambangan.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu melalui optimalisasi rumah kompos dan bank sampah.
Strategi ini terbukti memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga efisiensi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) hingga miliaran rupiah.
BACA JUGA:
- Surabaya Raih Penghargaan Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah, Program Kemis Mlipis Curi Perhatian
- Sterilisasi Gratis Jadi Kado Ulang Tahun Surabaya ke-733, DKPP Siapkan Kuota 100 Kucing Lokal
- Wali Kota Eri Cahyadi Tunjuk Wawali Armuji dan Syamsul Hariadi Isi Posisi Plh Selama Ibadah Haji
- Kado HJKS ke-733, Pemkot Surabaya Tambah Empat Mobil Perpustakaan Listrik
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, operasional 27 rumah kompos sanggup menghemat biaya pengangkutan sampah sebesar Rp6,73 miliar per tahun serta menekan biaya pengolahan di TPA Benowo hingga Rp7,36 miliar per tahun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, memaparkan bahwa volume sampah di Kota Pahlawan saat ini mencapai angka yang cukup besar.
"Jadi jumlah timbulan sampah di Kota Surabaya setiap harinya adalah 1.800 ton per hari," ujar Dedik, Selasa (13/1/2026).
Untuk menangani besarnya volume tersebut, DLH Surabaya mengoperasikan 27 rumah kompos dengan total kapasitas pengolahan 95,17 ton sampah organik per hari. Dedik merinci bahwa mayoritas bahan baku berasal dari limbah perantingan pohon sebanyak 90,41 ton dan sampah sayuran pasar sebesar 10,14 ton per hari.
"Jadi untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita memiliki kurang lebih 27 rumah kompos," terangnya. Ia menambahkan, "Ini yang kemudian kita kelola menjadi kompos, sehingga mengurangi jumlah sampah."
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




