Rumah Kompos Jambangan.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu melalui optimalisasi rumah kompos dan bank sampah.
Strategi ini terbukti memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga efisiensi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) hingga miliaran rupiah.
BACA JUGA:
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Bukan Cagar Budaya Asli, Pemkot Surabaya Hapus Status dan Bongkar Fasad Eks Toko Nam
- Pendaftaran Beasiswa Pemuda Tangguh Dibuka, Pemkot Surabaya Fokus Jemput Bola untuk Warga Desil 1-5
- Surabaya Kejar Penunggak Nafkah, Sistem Notifikasi Muncul Otomatis
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, operasional 27 rumah kompos sanggup menghemat biaya pengangkutan sampah sebesar Rp6,73 miliar per tahun serta menekan biaya pengolahan di TPA Benowo hingga Rp7,36 miliar per tahun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, memaparkan bahwa volume sampah di Kota Pahlawan saat ini mencapai angka yang cukup besar.
"Jadi jumlah timbulan sampah di Kota Surabaya setiap harinya adalah 1.800 ton per hari," ujar Dedik, Selasa (13/1/2026).
Untuk menangani besarnya volume tersebut, DLH Surabaya mengoperasikan 27 rumah kompos dengan total kapasitas pengolahan 95,17 ton sampah organik per hari. Dedik merinci bahwa mayoritas bahan baku berasal dari limbah perantingan pohon sebanyak 90,41 ton dan sampah sayuran pasar sebesar 10,14 ton per hari.
"Jadi untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita memiliki kurang lebih 27 rumah kompos," terangnya. Ia menambahkan, "Ini yang kemudian kita kelola menjadi kompos, sehingga mengurangi jumlah sampah."
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




