Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Kediri, Harisun (kanan) dan Sukadi (kiri) saat menghadiri panen raya. (Ist).
KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Kabupaten Kediri mencatat kontribusi signifikan dalam mendukung swasembada beras nasional.
Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Kediri Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sukadi, mengatakan capaian tersebut ditopang peningkatan luasan tanam dan produksi padi sepanjang 2025.
Pada 2024, luasan tanam padi di Kabupaten Kediri tercatat mencapai 49.100 hektare. Memasuki 2025, berbagai program pengembangan pertanian mendorong penambahan luasan tanam lebih dari 2.330 hektare.
"Kenaikan luasan tanam ini berdampak pada peningkatan produksi padi sekitar 16.000 hingga 17.000 ton," ujar Sukadi, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan produksi tersebut didukung pembangunan infrastruktur pertanian, mulai dari jaringan irigasi, sumur submersible, hingga koordinasi dengan Kementerian PUPR dalam pembangunan waduk dan embung untuk menjamin ketersediaan air bagi petani.
Selain infrastruktur, Pemkab Kediri juga mendorong modernisasi pertanian dari hulu hingga hilir, mencakup pembenihan, pratanam, proses panen, hingga pascapanen dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
Sementara itu, Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Kediri, Harisun, menyampaikan stok beras yang dikelola Bulog saat ini mencapai 66.000 ton.
Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 20 bulan ke depan.
"Kita tidak perlu khawatir, karena pemerintah dan Bulog sudah siap dengan cadangan stok yang luar biasa," jelas Harisun.
Ia menambahkan, pada 2025 Bulog Kediri menargetkan serapan gabah setara 50.000 ton beras dan berhasil terealisasi 100 persen. Saat target dinaikkan menjadi 55.000 ton, capaian serapan mencapai 92 persen.
Menurut Harisun, capaian tersebut menunjukkan kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga sekaligus menjamin kesejahteraan petani. Bulog membeli gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
"Meskipun stok melimpah, harga gabah tidak akan turun karena sudah ada batasan harga yang ditetapkan," ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan petani untuk memanen gabah pada waktu yang tepat dan menjaga kualitas hasil panen.
"Yang dibeli Bulog adalah Gabah Kering Panen (GKP) yang sudah siap panen, bukan gabah yang belum matang atau mengandung kotoran," katanya.
Sebagai penegasan swasembada beras nasional, Kementerian Pertanian menyatakan Indonesia tidak akan melakukan impor beras pada 2025 dan 2026.
Panen raya yang digelar di sejumlah daerah juga menjadi bentuk syukur atas melimpahnya stok beras nasional. (uji/van)






