Hj. Dini Rahmania, Anggota Komisi VIII DPR RI. Foto: Ist.
“Di sinilah peran guru dan wali asuh menjadi sangat krusial. Mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membina karakter, kedisiplinan, dan kepercayaan diri anak-anak dengan latar belakang yang beragam,” urai peraih penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif tersebut.
Pengawasan dan Pembentukan Karakter
Sekolah Rakyat yang berbasis asrama menerapkan sistem rasio satu wali asuh untuk sepuluh siswa. Dini menekankan bahwa manajemen pengasuhan harus sangat peka terhadap perbedaan usia agar tercipta lingkungan yang kondusif dan mencegah potensi konflik.
Selain itu, alumnus Universitas Airlangga (Unair) ini menggarisbawahi pentingnya menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab kepada siswa atas fasilitas yang diberikan negara melalui Kementerian Sosial.
“Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan karakter. Tujuan akhirnya adalah agar anak-anak ini mampu meraih cita-cita dan keluar dari lingkaran kemiskinan struktural,” tegasnya.
Dini berharap ke depannya pemerintah terus melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari segi kurikulum maupun percepatan pembangunan gedung permanen. Komisi VIII DPR RI pun berjanji akan terus mengawal agar program ini tetap tepat sasaran dan berkelanjutan demi keadilan sosial di bidang pendidikan. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




